Rupiah Nyaris Jebol ke Rp18.000!! Himbara Ramai-ramai Tunjuk Thomas Djiwandono, Ada Apa?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mengimbau dukungan Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono demi menyediakan likuiditas yuan dalam skema Local Currency Trade (LCT) Indonesia-China guna memperkuat transaksi bilateral di tengah pelemahan rupiah terhadap mata uang asing.

Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Perwakilan Himbara yang juga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Putrama Wahju Setyawan, kepada Thomas Djiwandono dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI pada Selasa pada hari semasih belumnya.

Menurut Putrama, keterlibatan bank-bank nasional dalam skema LCT tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan likuiditas penuh dari BI. Karena itu, Himbara mengimbau otoritas moneter menyediakan jaminan ketersediaan yuan untuk perbankan yang nantinya menjadi pelaksana transaksi perdagangan Indonesia-China memakai mata uang lokal.

“Ada sebuah syarat yang saya sampaikan kepada Pak Thomas Djiwandono, yakni bahwa bank di dalam negeri nanti yang akan terlibat dalam LCT ini membutuhkan 100% dukungan likuiditas CNY atau yuan dari Bank Indonesia,” ujar Putrama dalam rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan besar terhadap rupiah. Berdasarkan data perdagangan, nilai tukar rupiah sempat ditutup di level Rp17.839 per dolar AS dan terus bergerak menuju level Rp18.000 yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting untuk pasar.

LCT Jadi Senjata Kurangi Ketergantungan Dolar

Putrama menerangkan, penguatan kerja sama LCT bersama China menjadi salah satu strategi demi mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Mengingat nilai perdagangan Indonesia dan China amat besar, penggunaan mata uang lokal dinilai mampu mengurangi kebutuhan dolar sekaligus meredam tekanan terhadap rupiah.

Pengembangan skema tersebut juga tidak cuma melibatkan BI dan bank-bank nasional, namun akan didukung oleh tiga bank sentral, yakni Bank Indonesia, Bank Sentral China, dan Bank Sentral Hong Kong.

“Kita memahami bahwa sejumlah transaksi kita cukup besar bersama China, berakibat pada saat ini kami mengembangkan bersama BI local currency trade yang akan melibatkan tiga otoritas bank sentral,” kata Putrama.

Bank Indonesia semasih belumnya membeberkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral Indonesia-China terus meningkat signifikan. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut nilai transaksi LCT kedua negara pada tahun lalu telah melampaui US$25 miliar.

Sementara sepanjang pada tahun ini, nilai transaksi bulanan bahkan telah mencapai sekitar US$3,7 miliar. Angka tersebut memperlihatkan semakin sejumlah tersangka usaha yang beralih memakai yuan dan rupiah dibanding dolar AS dalam aktivitas perdagangan dan investasi.

BI juga telah memperluas kerja sama bersama sejumlah bank serta otoritas moneter China agar transaksi yuan dapat dilakukan langsung di Indonesia. Dengan demikian, tersangka usaha kini dapat menjalankan transaksi yuan dalam berbagai instrumen, mengawali dari spot, swap hingga forward.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *