MediaMerdeka.com – Model iklim global yang selama ini digunakan demi memprediksi dampak perubahan iklim dinilai masih memiliki keterbatasan dalam menggambarkan kondisi di wilayah perkotaan yang padat penduduk dan memiliki tingkat polusi tinggi.
Salah satu penyebabnya merupakan cara model tersebut merepresentasikan aerosol atau partikel-partikel kecil yang melayang di atmosfer.
Dikutip dari Phys.org, sebuah studi internasional yang dipimpin oleh para peneliti dari Leibniz Institute for Tropospheric Research menemukan bahwa sifat aerosol memiliki pengaruh yang makin kompleks terhadap iklim dibandingkan asumsi yang selama ini digunakan dalam model konvensional.
Aerosol berperan penting dalam mengatur keseimbangan energi Bumi lantaran mampu memantulkan seuntukan radiasi matahari kembali ke atmosfer. Partikel-partikel ini juga berfungsi sebagai inti pembentukan awan yang memengaruhi jumlah panas yang tersimpan di permukaan bumi.
Namun, kemampuan aerosol memantulkan radiasi amat dipengaruhi oleh tingkat higroskopisitas, yakni kemampuan partikel demi menyerap uap air dari atmosfer. Ketika karakteristik ini disederhanakan dalam model iklim, hasil proyeksi yang dihasilkan berpotensi kurang akurat.
Polusi Perkotaan Mengubah Karakter Aerosol
Tim peneliti menemukan bahwa wilayah bersama tingkat polusi tinggi dan komposisi kimia yang kompleks, bagaikan Delhi di India dan Kairo di Mesir, memperlihatkan perilaku aerosol yang berbeda dibandingkan asumsi dalam model iklim pada saat ini.
Partikel di wilayah tersebut cenderung menyerap makin sejumlah uap air berakibat ukurannya membesar dan kemampuan memantulkan cahaya meningkat. Fenomena ini diduga berkontribusi terhadap tren pendinginan regional atau laju pemanasan yang makin lambat yang diamati di sejumlah wilayah Asia dan Afrika.
Asisten Profesor di TU Delft, Ajit Ahlawat, menerangkan bahwa partikel di kota-kota yang amat tercemar dapat tumbuh makin cepat lantaran menyerap kelembapan dalam jumlah besar.
“Di daerah yang amat tercemar bagaikan kota-kota besar di Mesir atau India, partikel cenderung tumbuh makin cepat dan menyerap makin sejumlah air. Ini dapat menerangkan mengapa daerah-daerah ini menghangat makin lambat,” ujarnya.
Selain memengaruhi iklim, peningkatan pertumbuhan aerosol tersebut juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar. Pengukuran memakai drone di Delhi memperlihatkan bahwa karakteristik aerosol yang berubah berpotensi memperburuk kabut asap yang kerap menyelimuti kawasan perkotaan.
Kelemahan Model Iklim Konvensional
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment, kesalahan prediksi terbesar dalam model iklim sejumlah ditemukan di kawasan perkotaan.
Hal ini didikarenakankan oleh penggunaan asumsi bahwa aerosol tercampur secara seragam di atmosfer, padahal kenyataannya partikel berasal dari berbagai sumber emisi dan memiliki komposisi kimia yang berbeda-beda.
Peneliti mencatat bahwa sejak 2023 diketahui tingkat higroskopisitas aerosol secara global amat dipengaruhi oleh perbandingan kandungan zat organik dan anorganik di dalam partikel tersebut. Variasi ini masih belum sepenuhnya terakomodasi dalam model iklim yang digunakan pada saat ini.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

