MediaMerdeka.com – Pemanasan global tidak cuma meningkatkan emisi dari aktivitas manusia, namun juga berpotensi memicu pelepasan gas rumah kaca dari alam dalam skala yang makin besar.
Penelitian terbaru menemukan kenaikan suhu Bumi dapat mempercepat pelepasan metana (CH4) dari ekosistem alami bagaikan danau, kolam, sungai, dan lahan basah.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change. Para peneliti menemukan bahwa mikroorganisme yang selama ini menolong mengurangi emisi metana tidak mampu mengimbangi peningkatan produksi gas tersebut ketika suhu meningkat.
Metana sendiri merupakan salah satu gas rumah kaca teramat kuat. Dalam periode 20 tahun, daya pemanasannya diperkirakan mencapai sekitar 85 kali makin besar dibandingkan karbon dioksida (CO2).
Selama ini, pembahasan emisi metana makin sejumlah berfokus pada sektor peternakan, energi, dan aktivitas manusia lainnya. Padahal, hampir separuh emisi metana global berasal dari proses alami yang melibatkan mikroorganisme di ekosistem air tawar dan lahan basah.
Untuk memahami dampak jangka panjang kenaikan suhu, peneliti memanfaatkan kondisi alami di sejumlah wilayah Arktik yang memiliki aliran sungai hangat akibat aktivitas geotermal. Lokasi penelitian mencakup Alaska, Greenland, Islandia, Svalbard, hingga Kamchatka.
Melalui pendekatan tersebut, peneliti dapat menyaksikan bagaimana komunitas mikroba merespons peningkatan suhu selama ratusan hingga ribuan tahun.
Hasilnya memperlihatkan mikroba pengoksidasi metana memang menjadi makin aktif ketika suhu naik. Namun, peningkatan aktivitas itu tidak cukup cepat demi menahan lonjakan produksi metana yang terjadi akibat pemanasan.
Akibatnya, semakin sejumlah metana yang akhirnya lolos ke atmosfer.
Salah satu peneliti dari University of Exeter, Profesor Gabriel Yvon-Durocher, menyebutkan pola respons tersebut terlihat konsisten di berbagai lokasi penelitian.
“Yang menarik merupakan, meskipun proses mikroba yang terlibat dalam emisi metana amat kompleks, kami menemukan sensitivitas suhu yang kuat dan konsisten di berbagai ekosistem perairan tawar yang dipanaskan secara geotermal di wilayah Arktik,” kata Gabriel.
Para peneliti memperingatkan kondisi ini dapat menciptakan lingkaran umpan balik positif (positive feedback loop) dalam perubahan iklim.
Artinya, ketika suhu Bumi meningkat, produksi metana ikut bertambah. Emisi metana yang makin tinggi lalu memperkuat pemanasan global dan mendorong pelepasan metana makin lanjut.
Dalam konteks Indonesia, temuan ini menjadi relevan mengingat negara ini memiliki kawasan lahan basah dan ekosistem air tawar yang luas. Data Center for International Forestry Research (CIFOR) memperlihatkan Indonesia memiliki sekitar 19 juta hektar ekosistem air tawar dan lahan basah, atau sekitar 10 persen dari total luas wilayah negara.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pengendalian perubahan iklim tidak cukup cuma menekan emisi dari industri, energi, atau transportasi. Respons ekosistem alami terhadap kenaikan suhu juga perlu diperhitungkan lantaran dapat mempercepat laju pemanasan secara signifikan.
Dengan kata lain, krisis iklim berpotensi memunculkan sumber emisi baru dari alam itu sendiri—yang selama ini justru menolong menjaga keseimbangan iklim global.
Penulis: Natasha Suhendra
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

