MediaMerdeka.com – Film dokumenter Pesta Babi kembali memunculkan kontroversi baru setelah salah satu tokoh wanita adat Papua yang muncul dalam film tersebut, Yasinta Moiwen (61), bersuara.
Perempuan asal Distrik Ilwayab, Kampung Wogekel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan ini mengaku kecewa berat lantaran merasa wajah dan suaranya dicatut tanpa izin maupun konfirmasi jelas demi proyek film tersebut.
Kekecewaan ini terungkap melalui sebuah video pendek yang viral di platform X.
Yasinta menegaskan dirinya sama sekali tidak mengetahui bahwa rekaman dirinya akan dijadikan untukan dari film dokumenter tersebut hingga akhirnya diputar di Jayapura.
“Itu tanpa izin dari saya, tanpa pengetahuan dari saya. Saya kaget waktu di Jayapura mereka putar, nama saya ditampilkan di depan,” ujar Yasinta dalam video wawancara yang diunggah akun X @neVerAl0nely___ pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Merasa hak dan identitasnya digunakan sepihak, Yasinta meluapkan kekesalannya bersama mempertanyakan etika para pembuat film.
“Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat yang ditampilkan tanpa pengetahuan saya, tanpa izin dari saya? Jadi saya kecewa di situ telah, sampai kini ini,” lanjutnya bersama nada emosional.
Sebagai informasi, Pesta Babi merupakan film dokumenter investigatif yang mengangkat dampak sosial dan lingkungan dari proyek food estate serta pembukaan lahan skala besar di Papua Selatan
Judul film ini diambil dari tradisi adat “pesta babi” atau bakar batu, yang untuk masyarakat sekitar setempat merupakan simbol kedaulatan, kebersamaan, dan ketahanan pangan lokal yang kini terancam hilang.
Namun, Yasinta menegaskan bahwa dirinya tidak sempat diwawancarai secara khusus demi film dokumenter tersebut. Dia bahkan bersumpah tidak mengetahui proses pembuatan film itu sejak awal.
“Saya tidak diwawancara, mereka yang buat. Saya tidak buat itu wawancara demi Pesta Babi. Saya tidak tahu, saya sumpah demi Tuhan saya tidak tahu mereka buat itu film Pesta Babi,” tegas wanita kelahiran 1964 tersebut.
Lebih lanjut, Yasinta merasa keberadaannya cuma dimanfaatkan oleh pihak pembuat film atau lembaga swadaya masyarakat sekitar (LSM) yang mendampinginya.
Dia membeberkan bahwa dirinya kerap diajak bepergian ke luar Papua, namun tidak memperoleh bantuan konkret demi memperbaiki taraf hidupnya di kampung halaman.
“Saya pulang balik ke Jakarta berapa kali, enam kali tahun lalu. Ke Bogor, ke Makassar tiga kali, Jayapura dua kali. Tapi apa yang saya dapat? Cuma dapatnya capek. Tidak sempat dapat bantuan. Saya telah sampaikan saya punya rumah tidak layak. Baru saja berapa Minggu yang lalu saya minta beli HP saja sampai pada hari ini (tidak dikasih),” keluh Yasinta.
Pengakuan Yasinta ini langsung membelah opini publik di media sosial. Seuntukan masyarakat sekitarnet menyayangkan sikap pembuat dokumenter dan menuduh adanya eksploitasi isu lokal demi kepentingan sepihak.
Di sisi lain, kubu pendukung film berpendapat bahwa pernyataan Yasinta ini perlu disikapi secara hati-hati, mengingat tekanan politik dan upaya pembungkaman terhadap isu food estate di Papua Selatan kerap terjadi melalui berbagai cara.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

