Film Tanah Runtuh Berlatar Konflik Poso, Kamera Bergerak Liar Jadi Tantangan Pemain

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Film Tanah Runtuh garapan sutradara Rudi Soedjarwo bukan cuma menawarkan kisah emosional tentang keluarga yang tercerai berai akibat konflik. Di balik layar, proses pembuatannya dilakukan bersama cara yang tak biasa.

Rudi Soedjarwo mengaku sengaja menciptakan situasi yang terasa nyata agar para pemain, terutama kalangan anak, dapat bereaksi secara alami di depan kamera.

“Bahkan pelan-pelan saya mau menggeser kata ‘adegan’ jadi ‘kejadian’ sebenarnya. Karena terkadang adegan ini bawaannya kan akting. Tapi untuk yang masih belum pengalaman, itu kan demi membayangkannya susah,” kata Rudi Soedjarwo saat berkunjung ke kantor MediaMerdeka.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Senin, 8 Juni 2026.

Menurut Rudi, pendekatan tersebut dipilih lantaran Tanah Runtuh sejumlah bertumpu pada emosi para karakter, khususnya dua anak yang terpisah dari ibunya di tengah situasi konflik.

Karena itu, lingkungan di sekitar pemain wajib terasa hidup dan realistis agar reaksi yang muncul tak terlihat dibuat-buat.

“Yang kita share ke penonton emosional, emosi kan. Film akan dapat menarik penonton demi peduli sama karakter bila mereka terpancing secara emosi. Kalau situasinya enggak dibuat realistis, bagaimana mereka dapat bereaksi?” terangnya.

Rudi bahkan menyebut proses syuting makin mirip merekayasa sebuah peristiwa daripada merekam adegan film.

“Kita berkonspirasi merekayasa peristiwa ini supaya penonton percaya. Kamera cuma merekam kejadian itu. Kejadiannya yang wajib benar,” kata sutradara 54 tahun tersebut.

Metode itu menciptakan para pemain wajib senantiasa siap selama proses pengambilan gambar berlangsung.

Vino G. Bastian yang memerankan Idham menyebutkan kamera bergerak amat bebas dan dapat menangkap siapa saja kapan saja. Akibatnya, seluruh pemain wajib terus berada dalam karakter tanpa mengetahui kapan kamera akan mengarah kepada mereka.

“Kameranya liar banget. Bisa tiba-tiba dekat, tiba-tiba menjauh. Jadi kita memang wajib melupakan kamera. Jangan senantiasa sadar ada kamera. Kita wajib siap ketika kamera itu tiba-tiba ke kita,” kata Vino.

Suami Marsha Timothy itu mencontohkan salah satu adegan besar yang melibatkan sejumlah pemain dalam satu lokasi. Berbeda bersama syuting konvensional yang biasanya dilakukan per sudut pengambilan gambar, seluruh aktivitas dalam ruangan wajib berjalan bersamaan.

“Di sana wajib tembak-tembakan, di sini wajib tembak-tembakan. Jadi nggak dapat kamera ke sana terus yang lain santai. Semuanya wajib jalan, seluruhnya wajib real,” bebernya.

Pendekatan tersebut menciptakan proses persiapan film berlangsung cukup panjang. Rudi mengungkap para pemain menjalani latihan makin dari dua bulan, bahkan makin lama dibanding masa syuting.

Latihan itu pun tidak dilakukan bersama cara membaca naskah di dalam ruangan. Para pemain langsung menjalani simulasi situasi yang akan mereka hadapi saat syuting.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *