Industri Alas Kaki Masih Butuh SDM, Difabel Punya Peluang Besar

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Industri alas kaki nasional masih membutuhkan tenaga kerja terampil. Sehingga, hal ini dapat menjadi kesempatan untuk para pekerja, khusunya para penyandang disabilitas.

Dalam hal ini, PT Bank Mandiri Taspen menggelar program vokasi untuk penyandang disabilitas di Brebes, Jawa Tengah, guna menyiapkan operator jahit sepatu yang siap diserap dunia usaha.

Program yang digelar bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Tegal itu diikuti 30 peserta dari komunitas difabel di Kabupaten Brebes dan sekitarnya. Selama sepekan, peserta memperoleh pelatihan keterampilan menjahit bersama skema Operator Jahit Sepatu yang difasilitasi Ruang Amal Indonesia.

Pelatihan tersebut dirancang demi menjawab kebutuhan industri, sekaligus membuka akses kerja yang makin luas untuk penyandang disabilitas. Selain memperoleh keterampilan teknis, peserta juga akan mengikuti proses penempatan kerja di korporasi industri sepatu yang beroperasi di wilayah Brebes setelah pelatihan berakhir.

Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Cabang Pekalongan, Agus Suyana menyebutkan, skema pelatihan operator jahit dipilih lantaran industri alas kaki, khususnya di Jawa Barat dan Banten, masih membutuhkan tenaga kerja yang dapat dilatih dalam waktu relatif singkat.

“Menjahit sepatu merupakan skill teknis spesifik yang minim risiko bersama ruang gerak terbatas berakibat cocok demi penyandang disabilitas baik fisik maupun motorik. Kami menginginkan, sekali terampil langsung dapat diserap UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dan industri,” ujarnya bagaikan dikutip, Jumat (26/6/2026).

Ia menerangkan, program tersebut tidak cuma berfokus pada pelatihan, namun juga menjadi jembatan antara kebutuhan tenaga kerja industri bersama penyandang disabilitas yang telah memiliki kompetensi.

Dari sisi pasokan tenaga kerja (supply), peserta dibekali keterampilan hingga tersertifikasi. Sementara dari sisi permintaan (demand), mereka dihubungkan bersama korporasi garmen maupun industri alas kaki yang membutuhkan operator.

Program ini juga sejalan bersama fungsi Unit Layanan Disabilitas (ULD) Keaparatur negara kementerianan Ketenagakerjaan sebagai perantara penempatan kerja serta mendukung pengembangan ekosistem pendidikan yang inklusif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia masih tergolong rendah. Sementara itu, data Keaparatur negara kementerianan Ketenagakerjaan memperlihatkan cuma 702 penyandang disabilitas yang sukses memperoleh penempatan kerja melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) sepanjang 2023.

Selain itu, hingga kini baru terdapat ULD di 28 provinsi atau sekitar 73,7 persen dari total 38 provinsi. Di tingkat kabupaten dan kota, jumlahnya baru mencapai 179 ULD atau 34,82 persen dari total 514 daerah. Kondisi tersebut menciptakan sejumlah penyandang disabilitas masih kesulitan memperoleh akses pelatihan maupun pekerjaan formal.

Melalui program ini, Bank Mandiri Taspen berupaya memperluas akses pelatihan vokasi untuk penyandang disabilitas agar memiliki kesempatan yang sama demi bekerja dan mandiri secara ekonomi.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja industri sekaligus mendorong terciptanya pemberdayaan yang makin inklusif.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *