MediaMerdeka.com – Garuda Institute mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) demi dalam waktu dekat menjalankan sejumlah evaluasi terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu yang dinilai teramat mendesak ialah persoalan distribusi program tersebut.
Direktur Eksekutif Garuda Institute, Bachtiar Sebayang, menegaskan bahwa pihaknya mendukung sepenuhnya Program MBG sebagai langkah strategis dalam investasi sumber daya manusia dan penggerak ekonomi perdesaan.
Kendati demikian, lembaga kajian ini tidak memungkiri masih ada sejumlah aspek yang perlu dievaluasi oleh BGN, termasuk menyerahkan perhatian makin pada ketepatan sasaran distribusi.
“Tata kelola yang baik ini juga termasuk di antaranya merupakan memperhatikan sesungguhnya dari mana titik-titik keperluan penerima manfaat itu ditentukan dia tepat sasaran,” kata Bachtiar, dikutip Sabtu (27/6/2026).
Langkah ini dinilai mendesak menyusul adanya persoalan di lapangan terkait sebaran titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Sehingga tidak lagi terjadi tumpang tindih bagaimana di daerah yang sebetulnya tidak memerlukan, artinya yang stuntingnya makin kecil, ini dapat diprioritaskan makin dulu pada posisi penerima manfaat atau stuntingnya yang makin besar,” tandasnya.
Garuda Institute juga menyesalkan munculnya kasus hukum dan dugaan korupsi di internal BGN yang sempat terjadi semasih belumnya. Menurutnya, kasus tersebut mencederai tujuan utama program ini.
Selain itu, Bachtiar menyebut manajemen distribusi wajib dirancang secara komprehensif berakibat mampu menjangkau seluruh anak sekolah yang membutuhkan perbaikan gizi tanpa mengabaikan wilayah-wilayah prioritas.
“Jadi ini juga bukan semata-mata persoalan stunting saja tapi mendukung terutama kalangan anak sekolah yang kita kira perlu perkembangannya semakin baik,” tegasnya.
Evaluasi pada aspek operasional dan tata kelola di lapangan juga menjadi catatan serius. Mulai dari keterlambatan pengiriman, porsi makanan yang kurang, hingga kasus keracunan makanan yang sempat mencuat di sejumlah daerah.
Kendati menyoroti sejumlah kendala tersebut, Garuda Institute menegaskan komitmennya demi tetap mendukung program strategis nasional ini agar terus berjalan.
Program MBG dinilai sebagai instrumen vital jangka panjang yang efektivitasnya baru akan terlihat dalam sejumlah tahun ke depan, baik dari sisi kualitas sumber daya manusia maupun perputaran ekonomi perdesaan.
“Kita harap tentunya semakin baik ke depan. Ini merupakan investasi sumber daya manusia, investasi ekonomi juga dalam jangka panjang,” tegasnya.
Desak Evaluasi Menyeluruh
Secara terpisah, Guru Besar Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik (MKP) Fisipol UGM, Wahyudi Kumorotomo, mencontohkan adanya data yang memperlihatkan distribusi fasilitas pendukung program masih belum sepenuhnya sejalan bersama daerah yang memiliki tingkat stunting tinggi.
Menurutnya, apabila tujuan utama MBG merupakan meningkatkan status gizi dan menekan angka stunting, maka pihak pemerintah semestinya memusatkan perhatian pada wilayah-wilayah yang teramat membutuhkan intervensi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

