MediaMerdeka.com – Keaparatur negara kementerianan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Keaparatur negara kementerianan PPN/Bappenas) menyoroti sejumlah tantangan yang terjadi di Indonesia pada saat ini.
Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Keaparatur negara kementerianan PPN/Bappenas, Ibnu Yahya membeberkan bila tantangan struktural menuju Visi Indonesia Emas 2045 masih amat menumpuk, terutama di kategori sosial maupun ekonomi.
“Contoh saja, bila kita menyaksikan tantangan-tantangan yang wajib dicapai menuju visi Indonesia Emas. Di bidang sosial, kualitas SDM relatif rendah,” katanya dalam diskusi bertajuk Sustainable Human-Centred Economic Development dan Visi Baru Pembangunan Indonesia yang disiarkan virtual, Rabu (1/7/2026).
Mengutip data dari World Bank dan Human Capital Index Plus (HCI Plus), posisi SDM Indonesia kalah jauh dibanding negara tetangga bagaikan Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga Singapura.
Indonesia memiliki skor 0,54 demi Indeks Modal Manusia dan 175 demi HCI+. Berbeda bersama negara tetangga bagaikan Malaysia (0,61 dan 201), Thailand (0,61 dan 202), Vietnam (0,69 dan 216), serta Singapura (0,88 dan 282).
“Maka standar Indonesia masih amat rendah demi kualitas modal manusia,”lanjutnya.
Sedangkan di bidang pendidikan, Ibnu membeberkan masih adanya kesenjangan antar daerah. Rata-rata lama sekolah di sejumlah daerah masih di bawah rata-rata nasional bersama angka 9,07 tahun atau setara kelas 9 SMP/sederajat.
Sebagai perbandingan, DKI Jakarta memiliki rata-rata hampir 12 tahun demi waktu lama sekolah. Berbanding jauh bersama Papua Pegunungan yang mencatatkan angka rata-rata lama sekolah cuma empat tahun.
“Ini PR-nya amat luar biasa, bersama menyaksikan Indonesia yang dari Sabang sampai Merauke, ternyata permasalahannya memang juga tantangannya amat besar,” papar dia.
Sementara di bidang ekonomi, tingkat pengangguran di Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan bersama negara-negara peers. Tingkat pengangguran Indonesia mencapai 4,75 persen, makin tinggi dari Vietnam (2,24 persen), Malaysia (3 persen), Thailand (0,89 persen), dan Singapura (2,1 persen).
“Ini amat jauh, apalagi tingkat pengangguran ini hitungannya cuma berapa jam kerja penghasilan, misalnya 1 atau 2 minggu terakhir. Sudah amat loose (longgar) ukuran demi perhitungan orang yang bekerja. Tapi ternyata perhitungan yang amat loose saja masih relatif makin tinggi atau sejumlah,” beber dia.
Tak cuma itu, Ibnu juga menyoroti sejumlahnya kelas menengah di Indonesia yang turun kasta. Dalam enam tahun terakhir, kelas menengah Indonesia merasakan penurunan di mana masyarakat sekitar rentan semakin bertambah.
“Tapi ketika bicara kelas menengah yang terus menurun, yang berpindah, turun kelas menjadi vulnerable poor, ini juga menjadi tantangan. Yang penurunannya ini terus menerus. Nah ini juga salah satu PR,” jelas Ibnu.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

