MediaMerdeka.com – Pasukan militer Amerika Serikat kembali melancarkan gelombang serangan udara mematikan ke wilayah Iran demi melumpuhkan kekuatan tempur negara tersebut.
Operasi udara masif yang berlangsung pada Kamis malam ini menandai genapnya enam hari berturut-turut bombardir tanpa henti dari Pentagon.
Tiga ledakan keras mengguncang kawasan barat Bandar Abbas, sebuah kota maritim teramat strategis yang mengontrol jalur pelayaran Selat Hormuz.
Pusat Komando AS (CENTCOM) menegaskan bahwa bombardir jet tempur dimengawali tepat pada pukul 21.30 waktu setempat.
Pihak Pentagon menegaskan agresi ini bertujuan demi semakin menurunkan kemampuan militer Iran.
Hujan bom yang awalnya terkonsentrasi di pesisir selatan kini mengawali merangsek dan menyasar titik-titik vital di pedalaman Iran.
Imbas pertempuran ini memicu aksi balasan dari Teheran yang nekat meluncurkan armada pesawat tanpa awak ke sejumlah negara tetangga.
Dikutip dari CNN Internasional, Keaparatur negara kementerianan Pertahanan Kuwait menginformasikan bahwa sistem perisai udara mereka sukses merontokkan 32 drone agresor sejak subuh.
Runtuhan material drone tersebut merusak area pemukiman masyarakat sekitar, meskipun otoritas setempat mengonfirmasi tidak ada pihak korban jiwa yang jatuh.
Blokade total angkatan laut Amerika Serikat kini sepenuhnya mengunci pergerakan kapal di pelabuhan-pelabuhan utama Iran.
Arus lalu lintas tanker di Selat Hormuz merosot tajam ke level terendah dalam waktu 24 jam terakhir.
Gedung Putih langsung menepis kekhawatiran publik internasional mengenai potensi lonjakan harga bahan bakar global akibat konflik maritim ini.
Juru Bicara Kekepala negaraan AS, Karoline Leavitt, menganggap gejolak ekonomi global pada saat ini cumalah gangguan sementara di pasar minyak.
Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Iran melayangkan protes keras dan menuduh Washington telah menjalankan kejahatan perang lantaran menghancurkan fasilitas publik.
Namun di sisi lain, Teheran tetap membenarkan tindakan mereka yang menyerang kapal dagang komersial dan negara Arab sebagai upaya membela diri.
Presiden AS Donald Trump merespons bersama memperbarui ancaman demi meratakan jembatan serta pembangkit listrik utama di Iran.
Sebagai penutup, pihak pemerintah Iran memperingatkan bahwa intervensi bersenjata Amerika Serikat di Selat Hormuz merupakan garis merah yang tidak dapat dilanggar.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

