MediaMerdeka.com – Gedung Putih kini menggodok opsi tindakan militer ketat demi menghancurkan instalasi radar dan pertahanan rudal Iran di pesisir Selat Hormuz. Langkah dramatis ini diambil guna mengunci kemampuan militer Teheran agar tidak mampu bangkit menjalankan perlawanan balasan.
Rencana operasi tempur tersebut dirancang langsung oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) bersama dukungan penuh dari Menteri Perang Pete Hegseth. Meski draft skenario militer telah berada di meja kerja Presiden Donald Trump, restu akhir atas eksekusi serangan masih masih belum diterbitkan.
Ketegangan di lapangan bergerak cepat setelah rentetan ledakan mengguncang kawasan strategis Pulau Larak pada Minggu (30/8). AS disinyalir kuat telah makin dulu menguji ketangguhan artileri tempurnya bersama meluluhlantakkan peluncur rudal milik pasukan militer Iran.
Pemerintah Iran merespons manuver tersebut secara agresif melalui tembakan rudal balistik yang membidik armada kapal perang serta markas militer AS. CENTCOM bergeming dan menegaskan bahwa aksi gempuran balasan terpaksa dilancarkan demi melumpuhkan potensi tebar ranjau laut oleh Iran.
Pertimbangan diskresi Trump demi mengesahkan serangan terbatas ini memuncak seiring melonjaknya ancaman terhadap kapal tanker minyak internasional. AS tidak ingin menanggung risiko kerugian aset Angkatan Laut maupun Angkatan Udara yang beroperasi di wilayah perairan sensitif tersebut.
Konflik terbuka antara Washington dan Teheran sejatinya telah meletus hebat sejak 28 Februari 2026 akibat gempuran bersama AS dan Israel. Meski sempat menyepakati nota kesepahaman damai pada pertengahan Juni, kesepakatan itu mentah kembali akibat aksi saling serang yang tak kunjung padam.
Meskipun perseteruan bersenjata sempat mereda tanpa konfrontasi aktif, Washington terus melancarkan perang ekonomi secara agresif. Pengetatan sanksi finansial bertubi-tubi sengaja disuntikkan demi memudarkan ketahanan ekonomi Iran dan memaksa mereka tunduk.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

