MediaMerdeka.com – Krisis udara beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut hingga menghentikan berbagai kegiatan publik di wilayah Borneo. Bencana lingkungan lintas negara ini menjadi yang terparah dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir akibat dampak fenomena cuaca El Nino.
Kepungan asap pekat dari wilayah Kalimantan Indonesia menerobos batas negara hingga menyelimuti Sarawak, Malaysia, sejak awal Agustus. Sebaran polusi asap ini bahkan telah meluas mencapai wilayah Semenanjung Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Singapura.
Tingkat pencemaran udara di sejumlah wilayah Sarawak melonjak drastis melepasi angka 400 pada Indeks Pencemaran Udara (IPU), jauh di atas ambang batas bahaya 300. Wilayah Kuching mencatat angka IPU 407, sementara kawasan perbatasan Serian menyentuh angka 408.
Mia Emylia Hassan, 33, seorang ibu dua anak di Kuching, menyebutkan bau asap tidak dapat dihindari.
“Udara di sini amat pekat,” katanya dikutip dari Al Jazeera.
“Baunya bagaikan asap, dan seluruhnya berwarna putih.” Jarak pandang dari rumahnya, katanya, telah turun menjadi sekitar satu kilometer, atau sekitar setengah mil. “Kami masih belum menyaksikan langit biru selama makin dari sebulan,” katanya.
Kabut asap datang pada awal Agustus, tak lama setelah putrinya yang berusia 10 bulan pulang dari rumah sakit akibat infeksi paru-paru. “Dia tidak sembuh bersama baik lantaran paru-parunya masih berkembang,” kata Hassan.
“Dia telah minum obat sepanjang pada bulan ini, dan dia batuk serta muntah.”
Dua kali, keluarga tersebut wajib melarikan bayi tersebut kembali ke ruang gawat darurat lantaran dia tidak dapat bernapas.
“Ini bagaikan serangan jantung mini untuk kami setiap kali terjadi,” kata Hassan.
Keaparatur negara kementerianan Kesehatan Malaysia mencatat lonjakan dramatis penderita asma dari 219 kasus menjadi 1.811 kasus cuma dalam kurun waktu satu minggu pada akhir Agustus. Pada periode yang sama, laporan penderita konjungtivitis atau peradangan mata juga meningkat tajam dari 146 menjadi 720 kasus.
Di Semenanjung Malaysia, Karen-Michaela Tan, seorang pasien asma yang tinggal di dekat ibu kota, Kuala Lumpur, menyebutkan dia mengi secara terdengar pekan lalu dan merasa sesak napas saat menaiki tangga.
Pembacaan kualitas udara di daerahnya berada di atas 100 seuntukan besar minggu ini dan wanita berusia 52 tahun itu menyebutkan dia membutuhkan dua perawatan nebulizer berturut-turut demi menghentikan mengi, bersama bersama dosis steroid yang berat.
“Dokter mengambil langkah hati-hati dalam hal pasien asma, memilih demi meningkatkan dosis daripada mengambil risiko pasien dirawat di rumah sakit lantaran sesak napas,” katanya.
Rumahnya ditiadakan celah, dan dua pemurni udara berjalan terus-menerus.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

