MediaMerdeka.com – Keaparatur negara kementerianan Keuangan membeberkan alasan kenapa Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Plt. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kemenkeu, Ferry Ardiyanto menyebut bila sikap optimistis ini didorong oleh fondasi makro ekonomi yang mencatatkan rekor pertumbuhan impresif pada semester pertama 2026.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester pertama tahun 2026 menjadi sinyal positif yang amat berharga untuk perekonomian nasional.
“Jadi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif pada semester 1 2026 itu 5,45 persen, ini teramat tinggi dalam 13 tahun terakhir,” kata Plt. Dirjen Ferry dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Ferry menerangkan, apabila APBN 2026 mengusung tema kedaulatan pangan, energi, dan ekonomi demi memperkuat fondasi, maka RAPBN 2027 diproyeksikan demi melompat makin jauh.
“Sedangkan tema RAPBN 2027, bagaikan yang sampaikan oleh Bapak Presiden, merupakan tumbuh makin tinggi, sejahtera makin cepat. Keduanya merupakan satu rangkaian kebijakan. Jadi RAPBN 2026 itu memperkuat fondasi dan ketahanan ekonomi sementara itu RAPBN 2027 ini akan mengakselerasi fondasi tersebut menjadi pertumbuhan dan kesejahteraan yang makin tinggi,” tuturnya.
Di tengah ketatnya persaingan global, pihak pemerintah menegaskan komitmennya demi memfungsikan anggaran negara secara makin strategis dan berdampak langsung untuk masyarakat sekitar.
“RAPBN bagaikan yang disampaikan oleh Bapak Presiden, bukan sekedar dokumen anggaran tahunan. Itu merupakan alat perjuangan bangsa, instrumen negara demi melindungi rakyat, memperkuat fondasi pembangunan, dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan sekalian yang akan diamanatkan dalam konstitusi,” klaim dia.
Ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari membaiknya sektor manufaktur hingga konsumsi masyarakat sekitar. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur tercatat telah bergerak ke zona ekspansi di level 50,2, disusul perbaikan pada indikator penjualan semen, mobil, hingga sepeda motor.
Di sisi internasional, lembaga pemeringkat Standards & Poor’s (S&P) mempertahankan penilaian BBB bersama prospek stabil, sementara penerbitan Panda Bond memperoleh peringkat AAA dari lembaga rating China.
Meskipun APBN dipakai demi membiayai berbagai program prioritas nasiona bagaikan Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Sekolah Rakyat, hingga renovasi Puskesmas dan RSUD, ia mengklaim bila Pemerintah mengonfirmasi APBN dikelola secara berhati-hati.
Sebab defisit APBN pada tahun 2027 diproyeksikan berada di kisaran Rp671,12 triliun atau sekitar 2,40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini membaik dibandingkan outlook tahun 2026 yang berada di angka 2,80 persen PDB.
“Seperti disampaikan Pak Presiden, bahwa APBN 2027 didesain tetap ekspansif secara kolaboratif terukur dan terarah demi mendorong ekonomi yang tubuh makin tinggi dan kesehatan yang makin cepat,” jelas Ferry.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

