Indonesia Masih Susah Keluar dari Kubangan Jebakan Negara Berpendapatan Menengah

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Hasil kajian Asian Development Bank Institute (ADBI) memperlihatkan Indonesia masih kesulitan keluar dari kubangan jebakan negara berpendapatan menengah atau middle-income trap (MIT).

CEO ABDI Bambang Brodjonegoro menerangkan skor probabilitas Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah cuma 0,44, sementara ambang batasnya merupakan 0,6.

Dalam konferensi bersama Keaparatur negara kementerianan Perencanaan Pembangunan/PPN (Bappenas) di Jakarta, Rabu (9/9/2026) Bambang memaparkan hasil analisis berbasis machine learning yang mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kemampuan suatu negara mencapai status berpendapatan tinggi.

Analisis tersebut membandingkan dua model machine learning, yakni XGBoost dan Elastic Net.

Hasil kedua model memperlihatkan bahwa transformasi struktural, kualitas institusi, dan kelayakan politik merupakan tiga pilar bersama kontribusi terbesar terhadap kekuatan prediktif kemampuan suatu negara keluar dari MIT. Menurut dia, ketiga pilar tersebut menyumbang makin dari 73 persen kekuatan prediktif dalam model.

Selain ketiga pilar tersebut, analisis ADBI juga mencakup modal manusia (human capital), inovasi (innovation), kapasitas fiskal (fiscal capacity), dan kapasitas negara (state capacity).

“Sayangnya untuk Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, serta Kamboja, Myanmar, India, dan negara-negara lainnya, masih menyikapi tantangan lantaran probabilitas keluar dari middle income trap masih relatif jauh dari ambang batas,” kata Bambang.

Bambang menyebutkan skor Indonesia sebesar 0,44 masih berada di bawah sejumlah negara Asia lainnya. Thailand mencatat skor 0,56, sementara itu Vietnam mencapai 0,50.

“Jadi, saya dapat menyebutkan bahwa negara-negara tersebut berada dalam posisi borderline. Ada kebarangkalian demi keluar dari middle income trap, namun masih belum dapat ditentukan,” ucapnya.

Sementara itu, negara Asia lainnya bagaikan Jepang, Singapura, dan Korea Selatan mencatat skor probabilitas keluar dari middle income trap yang amat tinggi, masing-masing sebesar 0,97, 0,95, dan 0,91, semasih belum beralih menjadi negara berpendapatan tinggi.

Menurut Bambang, Indonesia perlu memperkuat kemampuan domestik dan meningkatkan produktivitas demi meningkatkan nilai tambah domestik sebagai untukan dari upaya keluar dari middle-income trap.

Menurut dia, modal dasar Indonesia selama ini bertumpu pada sumber daya alam. Oleh lantaran itu, ia menilai Indonesia perlu memperkuat basis sumber daya tersebut melalui pendalaman manufaktur, pengembangan pemasok domestik, penarikan investasi asing langsung (FDI) yang berorientasi pada teknologi, peningkatan keterampilan dan inovasi, serta partisipasi dalam integrasi rantai nilai regional.

Selain itu, konsistensi kebijakan juga dinilai penting demi mendukung transformasi struktural Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *