MediaMerdeka.com – Keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, demi mengerek level suku bunga acuan berdampak langsung pada pelemahan bursa saham di kawasan Wall Street pada penutupan perdagangan Rabu (16/9/2026). Langkah agresif yang diambil demi pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir ini bertujuan menjinakkan lonjakan inflasi yang dipicu oleh tingginya harga minyak dunia.
Indeks utama di bursa AS kompak memerah. Dow Jones Industrial Average terperosok 631,33 poin atau sekitar 1,21%, diikuti oleh pelemahan indeks S&P 500 yang turun 33,59 poin (0,44%). Indeks padat teknologi Nasdaq Composite juga wajib rela ditutup sedikit makin rendah bersama koreksi tipis 3,15 poin (0,01%).
Pelemahan ini amat terasa pada deretan emiten sektor energi. Saham raksasa energi bagaikan Chevron dan Exxon Mobil masing-masing merasakan kontraksi sebesar 2,9% dan 3,5%.
Bahkan, saham Devon Energy serta ConocoPhillips terpuruk makin dalam bersama penurunan menembus angka 5%. Pada saat yang bersamaan, kontrak harga minyak mentah jenis Brent di pasar komoditas juga ditutup terkoreksi sebesar 2,7%.
Di tengah tren negatif tersebut, anomali positif justru dicatatkan oleh sektor semikonduktor. Saham Intel terpantau melonjak hingga 4,0% di tengah beredarnya laporan mengenai negosiasi kerja sama produksi cip memori di Amerika Serikat bersama korporasi asal Korea Selatan, SK Hynix.
Saham SK Hynix yang diperdagangkan di bursa AS turut meraup penguatan sebesar 0,6%. Sebaliknya, saham IBM wajib rela anjlok 4,4% seusai korporasi mengumumkan bahwa unit bisnis cip mereka, Anderon, telah meneken perjanjian pendanaan bersama pihak pemerintah AS.
Pernyataan resmi yang dirilis oleh dewan kebijakan The Fed menegaskan bahwa keputusan penaikan suku bunga ini disepakati secara bulat. Otoritas moneter AS tersebut juga melemparkan sinyal kuat mengenai potensi pengetatan kebijakan makin lanjut dalam waktu dekat guna menekan laju inflasi makin cepat.
Menyikapi hal tersebut, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa kondisi perekonomian AS sejatinya telah menguat sejak pertemuan The Fed semasih belumnya, meski tren inflasi baru memperlihatkan perbaikan yang relatif minim.
Bursa Asia-Pasifik Catat Rebound Jelang Keputusan BOJ
Berbanding terbalik bersama gejolak di Amerika Serikat, pasar saham di kawasan Asia-Pasifik justru memperlihatkan ketahanan yang solid. Mayoritas indeks utama di Asia sukses berbalik menguat (rebound) pada perdagangan Rabu (16/9/2026) setelah sempat tersungkur pada hari semasih belumnya.
Di bursa Jepang, indeks Nikkei 225 dan Topix kompak menguat masing-masing sebesar 0,7% dan 0,6%. Sentimen positif ini mengekor rilis data neraca perdagangan Negeri Sakura yang memperlihatkan lonjakan nilai ekspor sebesar 19,3% secara tahunan (YoY). Meski demikian, beban biaya energi yang tinggi memicu impor melesat 28%, berakibat Jepang wajib membukukan defisit perdagangan senilai 1,106 triliun yen atau setara US$ 7,5 miliar.
Penguatan juga terjadi di berbagai bursa utama Asia lainnya. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,2%, Taiex Taiwan terangkat 0,7%, sementara indeks Kospi di Korea Selatan memimpin penguatan bersama melesat 1,4%. Indeks ASX 200 Australia dan NZX 50 Selandia Baru juga membukukan rapor hijau, masing-masing bertambah 0,3% dan 0,9%. Tercatat cuma indeks Straits Times Singapura yang melemah tipis 0,06%, sementara bursa FTSE Malaysia tidak beroperasi lantaran libur peringatan Hari Malaysia.
Meskipun mencatatkan rebound, para tersangka pasar di kawasan ini tetap menerapkan sikap kehati-hatian (wait and see). Konsentrasi investor kini tertuju pada rilis kebijakan suku bunga dari Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan pada Jumat (18/9/2026). BOJ diproyeksikan akan mengekor langkah The Fed demi mengetatkan likuiditas.
Kewaspadaan pasar global juga dipengaruhi oleh situasi di Benua Eropa. Rilis angka inflasi Inggris bulan Agustus 2026 secara mengejutkan melompat ke level 3,1%, menyentuh titik tertingginya dalam lima bulan terakhir, dibandingkan inflasi bulan Juli yang berada di kisaran 2,9%. Data krusial ini muncul cuma sehari semasih belum pengumuman kebijakan moneter oleh Bank of England (BOE).
Analisis Teknikal IHSG: Peluang Sideways di Tengah Hengkangnya Asing
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

