MediaMerdeka.com – Hilirisasi sektor pertanian dan industri berbasis bahan baku agro dinilai memiliki potensi besar demi meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Bahkan, perluasan ekspor produk hilir agro disebut dapat menyerahkan tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 10 kali lipat.
Wakil Kepala Kajian Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI Christina Ruth Elisabeth menyebutkan, sektor agro memiliki keterkaitan yang kuat antara sektor hulu dan hilir.
Menurut dia, keterkaitan tersebut menciptakan pengembangan industri berbasis komoditas pertanian berpotensi menyerahkan dampak ekonomi yang makin luas.
Dia menyaksikan keterkaitan input-output industri agro yang berasal dari hasil penelitian bersama memakai data BPS. Secara keseluruhan, tembakau, kakao, dan kopi telah berada di atas poin satu.
“Ini memang keterkaitan ke depannya tinggi dan strategis demi dikembangkan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Christina mencontohkan industri hasil tembakau (IHT) yang memiliki keterkaitan bersama berbagai sektor di untukan hulu. Industri tersebut dapat menyerap input dari sektor hulu, mengawali dari bibit, pupuk, pestisida, mesin pertanian, hingga jasa logistik.
Keterkaitan antara sektor hulu dan hilir tersebut menciptakan dampak ekonomi industri agro dapat dirasakan hingga masyarakat sekitar di tingkat dasar.
Christina menilai hilirisasi sektor pertanian memiliki peluang demi meningkatkan kesejahteraan petani yang berada di sektor hulu.
Menurutnya, karakteristik tersebut menciptakan pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari hilirisasi pertanian atau industri berbasis bahan baku agro berpotensi makin inklusif.
“Hilirisasi di sektor pertanian ini amat berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani yang ada di hulu. Jadi pertumbuhan ekonominya, apabila kita mendorong hilirisasi pertanian atau industri berbasis bahan baku agro, makin inklusif sebenarnya dibandingkan bersama sektor mineral,” jelas Christina.
Hal ini sejalan bersama kinerja ekspor nasional yang memperlihatkan pertumbuhan positif. Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menegaskan total nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai 25,30 miliar dolar AS.
Kenaikan ekspor bulanan tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat 13,66 persen, meskipun ekspor migas turun 9,81 persen.
“Beberapa komoditas nonmigas utama bersama pertumbuhan ekspor tertinggi, antara lain, kopi, teh, dan rempah-rempah yang meningkat 54,44 persen, tembakau dan rokok 43,49 persen,” ujar Budi.
Sepanjang Januari-April 2026, total ekspor Indonesia mencapai 92,15 miliar dolar AS atau naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun semasih belumnya. Ekspor nonmigas juga tumbuh 6,28 persen menjadi 87,74 miliar dolar AS.
Sementara, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyebutkan, nilai pasar makanan dan minuman artisan pada 2025 diperkirakan mencapai 332 miliar dolar AS dan diproyeksikan meningkat hingga 627,3 miliar dolar AS pada 2032.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

