Maestro seni sekaligus politikus kenamaan tanah air, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospital Semanggi Jakarta. Putra bungsu Proklamator RI itu tutup usia pada Sabtu pagi pukul 04.16 WIB tepat di umur 73 tahun.
Kepergian sosok multitenta ini menandai berpulangnya salah satu penggerak budaya legendaris yang konsisten merawat identitas nasionalisme lewat ruang ekspresi seni. Dedikasi almarhum melampaui sekat politik formal lantaran karyanya sukses membentuk karakter musik dan seni pertunjukan modern di Indonesia.
Pihak keluarga menjadwalkan prosesi persemayaman almarhum bertempat di rumah duka yang berlokasi di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26. Ketentuan kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh pihak internal partai melalui keterangan resminya.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Telah berpulang ke Rahmatullah, Almarhum Bapak Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra Bin Soekarno pada usia 73 tahun,” tulis Hasto dalam pesan yang diterima di Jakarta, Sabtu.
“Mohon dibukankan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dan kekhilafan dari Almarhum Tercinta,” kata Hasto.
DPP PDI Perjuangan menyampaikan belasungkawa mendalam atas kehilangan figur penting yang berkontribusi besar untuk perjalanan organisasi dan kebudayaan bangsa. Seluruh struktur partai dari tingkat pusat hingga ranting mendapat instruksi resmi demi mengibarkan bendera setengah tiang selama sepekan penuh.
“Keluarga besar PDI Perjuangan sungguh kehilangan Mas Guruh Soekarnoputra. Beliau dikenang sebagai seniman besar, sosok Marhaenis, dan pejuang partai. Kami berikan penghormatan terbaik untuk Almarhum bersama Protokol Partai,” ucapnya.
Segenap kerabat dan kolega turut memanjatkan doa agar almarhum wafat dalam keadaan husnul khatimah serta seluruh kebaikannya diterima di sisi Tuhan. Penghormatan berupa protokol partai disiapkan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi panjangnya selama bertugas.
Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953, adik kandung Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri ini memadukan bakat seni tari dan musik sejak usia muda. Dalam perjalanan asmaranya, ia tercatat sempat membina rumah tangga bersama wanita asal Uzbekistan, Guseynova Sabina Padmavati, pada rentang 2002 hingga 2009.
Dunia pertunjukan Indonesia mencatat nama almarhum sebagai pendiri grup kesenian Swara Mahardhika serta Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production. Ia juga membidani lahirnya grup musik legendaris Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bersama deretan musisi papan atas bagaikan Keenan Nasution, Abadi Soesman, hingga Chrisye.
Salah satu karya monumental ciptaannya yang terus melegenda hingga kini merupakan tembang “Kala Sang Surya Tenggelam” yang dipopulerkan oleh Chrisye. Selain aktif melahirkan karya seni yang fenomenal, ia juga mendedikasikan jiwanya di panggung politik nasional bersama mengemban amanat sebagai anggota DPR RI periode 1992–1997.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

