MediaMerdeka.com – Keselamatan dan kesehatan para pelajar wajib menjadi standar utama tindakan pihak pemerintah saat ancaman polusi udara makin membahayakan.
Kondisi kualitas udara yang terus merosot memicu desakan langsung dari tingkat tertinggi kerajaan demi menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim menginstruksikan agar seluruh fasilitas sekolah di area terdampak dalam waktu dekat diliburkan apabila tingkat Indeks Pencemaran Udara (API) bertahan di kisaran 150 hingga 180.
Pihak otoritas pendidikan diminta tidak berkompromi terhadap ancaman penyakit pernapasan yang mengintai kalangan anak akibat paparan partikel beracun.
Langkah tegas ini diambil demi mengonfirmasi kelompok rentan tidak menanggung risiko kesehatan jangka panjang akibat kelambatan respons birokrasi.
Sultan Ibrahim menegaskan bahwa pembuat kebijakan di sektor pendidikan wajib memprioritaskan keselamatan siswa di atas agenda akademik harian.
“Kesehatan dan keselamatan siswa wajib menjadi prioritas,” kata Sultan Ibrahim.
Seluruh keaparatur negara kementerianan dan instansi terkait diperintahkan bergerak cepat menyusun skema perlindungan ketat untuk masyarakat sekitar terdampak.
Perhatian khusus wajib diarahkan kepada kalangan anak, lansia, serta penderita gangguan pernapasan yang teramat rentan terserang dampak buruk kabut asap.
Masyarakat umum juga diimbau memakai masker pelindung serta membatasi kegiatan di luar ruangan sampai kondisi udara kembali normal.
Pemerintah Daerah Johor telah memelopori kebijakan penghentian aktivitas sekolah selama dua hari penuh sesuai arahan Pemimpin Negeri Johor, Tunku Mahkota Ismail.
Tindakan darurat di Johor tersebut diambil setelah pemantauan kualitas udara memperlihatkan tingkat pencemaran yang telah melewati batas aman untuk kalangan anak.
Mekanisme pemantauan skor API secara berkala kini dijadikan acuan utama demi menentukan penghentian aktivitas publik secara makin luas.
Krisis kabut asap ini menjadi latar belakang meningkatnya keprihatinan publik di Malaysia terhadap penurunan kualitas udara yang kerap berulang di kawasan tersebut.
Kombinasi cuaca ekstrem dan penyebaran polutan lintas batas menjadi pemicu utama melonjaknya angka indeks pencemaran di sejumlah negara untukan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

