MediaMerdeka.com – Partikel polusi dari emisi pesawat terbang berpotensi kian berbahaya setelah berada di udara selama sejumlah hari. Perubahan ini terjadi akibat reaksi kimia partikel bersama komponen udara ketika terpapar sinar matahari.
Temuan tersebut tertuang dalam jurnal Environment Science: Atmosphere. Studi itu membandingkan perubahan sifat partikel dari emisi mesin jet pesawat dan mesin diesel kapal laut.
Bahkan ditemukan potensi oksidatif partikel, yakni kemampuannya dalam menimbulkan stress oksidatif. Kondisi ini dapat terjadi ketika molekul reaktif dalam tubuh memakini kemampuan sistem pertahanan antioksidan demi menetralkannya.
Stress oksidatif dapat memicu peradangan dan berkontribusi terhadap gangguan kesehatan, termasuk pemyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Guna menganalisis perubahan sifat partikel, para peneliti menggunaakn reaktor fotokimia. Perangkat ini mensimulasikan proses atmosfer yang dialami partikel selama satu hingga 12 hari.
Kemudian mereka mengukur potensi oksidatif partikel memakai instrumen khusus bernama Online Oxidative Potential Ascorbic Acid Instrument (OOPAAI).
Instrumen tersebut dikembangkan di Universitas Basel demi megukur sifat oksidatif partikel polusi udara.
Hasil pengujiannya memperlihatkan potensi oksidatif partikel dari meisi pesawat merasakan peningkatan secara signifikan seiring berjalannya waktu.
Pada sisi lain, sifat emisi mesin kapal yang berhubungan bersama kesehatan cenderung stabil selama periode pengamatan.
Perbedaan tersebut membuktikan bahwa karakteristik partikel polusi dapat merasakan perubahan setelah dilepaskan ke atmosfer.
Karena itu, pengukuran emisi sesaat setelah pembakaran masih belum menjamin dapat menggambarkan seluruh potensi bahayanya.
Perlu ditekankan bahwa peningkatan potensi oksidatif emisi pesawat berkaitan bersama perubahan komposisi kimia partikel. Perubahan tersebut terjadi begitu partikel bergesekan bersama komponen udara di bawah paparan sinar matahari.
Partikel Halus Berisiko Bagi Kesehatan
Partikel halus dapat terbentuk dari proses pembakaran bahan bakar dan bertahan di udara selama berjam-jam hingga sejumlah hari.
Sejumlah partikel berukuran nanometer amat mebarangkalikan demi terhirup dan memasuki saluran pernapasan.
Begitu masuk ke tubuh, partikel dapat memicu respons biologis, bergantung pada karakteristik dan tingkat paparan. Salah satu mekanismenya yang menyorot perhatian merupakan stres oksidatif.
Salah satu penulis utama penelitian dari Departemen Ilmu Lingkungan dan Institut Nanosains Universitas Basel, Dr. Battist Utinger, menekankan betapa pentingnya demi mempertimbangkan perubahan partikel setelah dilepaskan.
“Studi kami memperlihatkan bahwa penting demi menyaksikan makin dari sekadar partikel knalpot yang baru saja dikeluarkan,” ujarnya, dikutip dalam laman Phys, Kamis (15/10).
Ia menilai proses atmosfer dapat mengubah sifat oksidatif partikel secara signifikan. Perubahan tersebut turut memengaruhi potensi bahaya untuk kesehatan manusia.
Regulasi Polusi Perlu Memperhitungkan Perubahan Partikel
Penulis lainnya, Kalberer menilai temuan tersebut juga berkaitan bersama kebijakan pengendalian pencemaran udara.
Ia menyoroti bahwa regulasi yang berlaku masih belum sepenuhnya memperhitungkan sumber partikel halus teramat beracun dan perubahan sifatnya di atmosfer.
“Studi ini bersama jelas memperlihatkan bahwa kerangka hukum pada saat ini, bagaikan Peraturan Swiss tentang Pengendalian Polusi Udara, tidak secara memadai memperhitungkan sumber-sumber partikel halus yang teramat beracun,” tekannya.
Hal ini mengamati terkait pentingnya menilai polusi udara tidak cuma bertumpu pada emisi awal, melainkan juga perubahan yang terjadi setelah partikel dilepaskan.
Untuk itu, diperlukan penelitian lanjutan demi memahami dampak perubahan tersebut terhadap paparan lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar secara makin mendalam.
Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan polusi udara menyebabkan sekitar tujuh juta kematian dini setiap tahunnya di seluruh dunia.
Maka dari itu, bersama memahami karakteristik partikel polusi udara menjadi langkah penting dalam mengupaya pengurangan risiko kesehatan akibat pencemaran udara.
Penulis: Chairunisa
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

