MediaMerdeka.com – Peluang berakhirnya kontak senjata antara Rusia dan Ukraina diprediksi semakin menguat menjelang paruh kedua tahun 2026. Kombinasi antara kemandirian militer Kyiv dan krisis internal di Kremlin menjadi faktor penentu penghentian perang ini.
Kebuntuan di garis depan pertempuran memaksa kedua belah pihak mempertimbangkan opsi diplomasi demi mencegah kerugian makin lanjut. Rusia mengawali kehilangan momentum serangan meski diuntungkan oleh lonjakan harga komoditas energi global pada saat ini.
Ukraina justru memperlihatkan taji bersama menghancurkan jalur logistik minyak di wilayah kedaulatan Rusia, termasuk pelabuhan Tuapse.
Langkah berani ini memicu penurunan stabilitas domestik Rusia hingga memaksa pihak pemerintah membatasi akses internet seluler.
Mantan utusan AS, Kurt Volker, menyebut bahwa militer Ukraina kini berada dalam posisi yang jauh makin tangguh.
Ketergantungan Kyiv terhadap pasokan senjata dari negara-negara Barat dilaporkan telah menurun secara signifikan secara sistematis.
“Ukraina kini mampu memenuhi sekitar 60 hingga 70% kebutuhan militernya sendiri,” ujar Volker terkait ketahanan pertahanan Ukraina, dikutip dari DW Jerman.
Angka ini menjadi jaminan untuk Kyiv demi tetap bertahan meskipun perhatian Amerika Serikat terpecah ke wilayah Teluk.
Pengalihan fokus Gedung Putih terhadap konflik Iran dan Israel memang sempat memicu kekhawatiran serius di internal Ukraina. Namun, transformasi industri pertahanan dalam negeri mebarangkalikan mereka beroperasi meski tanpa bantuan rudal Patriot yang mengawali terbatas.
Ketidaktentuan politik di Amerika Serikat menjelang pemilu sela menjadi variabel yang amat memengaruhi durasi perang ini. Kebijakan Donald Trump yang makin memprioritaskan isu Iran dan Kuba mengawali menekan posisi tawar Ukraina secara politik.
Zelenskyy mengakui adanya tekanan dari Washington agar pasukannya mundur dari wilayah Donbass sebagai syarat damai sementara.
Evelyn Farkas dari McCain Institute menilai desakan tersebut merupakan bentuk manuver politik yang akan diuji pasca-pemilu November.
“Hal itu dapat cukup demi menekan pihak pemerintah AS agar tetap melanjutkan dukungan kepada Ukraina dan NATO,” tegas Farkas.
Jika dominasi Republik melunak setelah pemilihan, aliran bantuan demi membendung pengaruh Rusia diprediksi akan kembali stabil.
Pakar militer menyaksikan bahwa mengakhiri perang melalui kemenangan total di medan tempur merupakan hal yang mustahil dilakukan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini



