MediaMerdeka.com – Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungannya, pemimpin China Xi Jinping langsung menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu, (20/5/2026).
Namun, kejutan diplomatik tidak berhenti di situ. Fokus global kini bergeser ke arah rekonsiliasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dikabarkan akan dalam waktu dekat menggelar babak baru perundingan damai.
Berdasarkan laporan terbaru, Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan akan bertemu di Islamabad, Pakistan, demi menjalankan pembicaraan serius guna meredakan ketegangan yang telah memuncak dalam sejumlah waktu terakhir dikutip dari Sputnik Globe.
Perundingan ini direncanakan berlangsung tepat setelah berakhirnya rangkaian ibadah Haji atau bertepatan bersama momentum Idul Adha pada akhir Mei 2026.
Langkah damai ini dipandang sebagai upaya mendesak demi mengakhiri perang AS-Iran yang sempat pecah.
Pakistan sebagai mediator
Semasih belumnya, militer AS dan Israel meluncurkan Operasi Epic Fury terhadap Iran pada Februari 2026, yang lalu dibalas oleh Iran melalui operasi True Promise 4.
Pakistan memainkan peran kunci sebagai mediator dalam konflik ini, di mana panglima angkatan darat Pakistan dijadwalkan mengunjungi Iran pada 21 Mei 2026 demi mengumumkan penyelesaian draf akhir kesepakatan damai.
“Barat” dan “Timur” Adu Manuver
Kesibukan diplomasi di China tampaknya menjadi katalisator untuk negara-negara besar demi mengatur ulang strategi mereka.
Kemesraan Xi Jinping dan Vladimir Putin di Beijing telah menghasilkan kesepakatan ekonomi yang amat masif, bersama nilai perdagangan bilateral mencapai Rp 4.224 triliun pada tahun 2025 .
Yang cukup menantang untuk dominasi Barat, hampir 100 persen transaksi tersebut kini dilakukan memakai mata uang lokal, Rubel dan Yuan, demi menghindari ketergantungan pada Dolar AS.
Selain urusan ekonomi, China juga terus memperkuat posisinya sebagai mediator global. Selain memfasilitasi hubungan bersama Rusia, Xi Jinping dilaporkan akan dalam waktu dekat melawat ke Korea Utara pada pekan depan.
Belajar dari blokade Hormuz, China siapkan rute dagang baru
Ambisi China demi membangun Polar Silk Road atau Jalur Sutra Kutub juga menjadi faktor yang menciptakan sejumlah negara wajib berpikir ulang tentang stabilitas maritim.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

