MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan melemahnya nilai tukar rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS tidak masuk akal. Ia menyebutkan pelemahan itu tak sewajibnya terjadi lantaran fundamental ekonomi Indonesia bagus.
“Ini terjadi lantaran fundamentalnya bagus, sebetulnya enggak masuk akal. Biasanya melemah bila ada gangguan di fundamental ekonomi,” kata Purbaya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Rabu (27/5/2026) bagaikan dilansir dari Antara.
Rupiah ditutup melemah 0,25 persen di akhir perdagangan Selasa sore pada hari semasih belumnya (26/5/2026) ke Rp17.775 per dolar AS. Sementara sejumlah bank telah menjual dolar di atas Rp18.000 di hari yang sama.
Sementara di non-deliverable forward atau NDF, nilai tukar rupiah telah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
NDF, yang tersedia di pusat keuangan internasional bagaikan New York, Singapura, Hong Kong dan London, merupakan instrumen perdagangan mata uang dalam jangka waktu dan patokan kurs tertentu.
Pelemahan rupiah di pasar NDF berpotensi diikuti oleh pelemahan di pasar spot. Karenanya Bank Indonesia senantiasa menjalankan intervensi di pasar NDF demi menjaga nilai tukar rupiah.
Adapun Purbaya, meski heran, mengaku masih optimistis pelemahan rupiah tak akan memengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyebutkan telah menjalankan simulasi terhadap berbagai skenario ekonomi, termasuk memperhitungkan saat harga minyak global mencapai 100 dolar AS per barel dan rupiah melemah.
“Kita udah hitung. Pada waktu simulasi (minyak global) 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga telah kita perhitungkan. Jadi enggak ada masalah, saya enggak wajib hitung ulang APBN-nya,” ujar Purbaya saat ditemui
Selain itu, ia memandang kondisi pasar obligasi masih terkendali meski rupiah merasakan tekanan. Hal itu dibantu bersama strategi pihak pemerintah menjalankan langkah stabilisasi melalui pembelian obligasi agar imbal hasil (yield) tetap terjaga.
“Tapi gini, walaupun rupiah melemahkan bond, yield-nya turun. Karena aksi dari pihak pemerintah, aksi dari teman-teman kita di bendahara (Direktorat Jenderal Pembendaharaan), demi sedikit membeli (buyback), supaya yield-nya agak terkendali,” katanya.
Purbaya menyebutkan stabilitas pasar obligasi menjadi faktor penting dalam menjaga minat investor asing terhadap aset domestik.
“Jadi selama bond market terkendali, kemampuan investor asing demi menjalankan investasi bond kita akan terjaga juga. Kita telah mengawali menyaksikan ada yang masuk modal asing ke pasar
Selain itu, Bendahara Negara itu juga membeberkan bahwa pihak pemerintah tengah menyiapkan langkah lanjutan demi memperkuat nilai tukar rupiah.
“Ke depan akan ada tindakan pihak pemerintah lagi yang akan menolong menaikkan rupiah bersama signifikan,” katanya mengimbuhkan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

