Waduh! AS Ancam Bom Oman, Berpotensi Ciptakan Perang Baru

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman militer ekstrem terhadap Oman apabila negara itu terbukti menolong Iran. Washington bersikeras menepis segala bentuk kendali bilateral atas Selat Hormuz yang merupakan jalur vital energi global.

Langkah ini menandai pergeseran radikal dalam kebijakan luar negeri AS yang kini dinilai semakin agresif. Hubungan diplomatik bilateral yang telah terjalin selama dua abad kini berada di ambang kehancuran akibat ego geopolitik.

Ancaman ini mencuat dalam rapat kabinet setelah beredarnya laporan mengenai draf nota kesepahaman (MOU) antara Muscat dan Tehran. Kesepakatan tersebut dirumorkan bakal memberi otoritas bersama kepada kedua negara demi mengelola kawasan perairan strategis itu.

Seorang jurnalis mempertanyakan sikap Gedung Putih mengenai wacana pengelolaan bersama tersebut dalam pertemuan itu.

Jurnalis bertanya, “Apakah Anda akan menyambut baik kesepakatan jangka pendek yang mengizinkan Iran dan Oman mengendalikan selat tersebut?”

Trump secara spontan menyerahkan jawaban yang amat agresif dan mengejutkan publik internasional.

“Tidak ada yang akan mengendalikannya. Ini merupakan perairan internasional, dan Oman akan berperilaku bagaikan orang lain, atau kami wajib meledakkan mereka.”

Pernyataan kontroversial ini langsung memicu kecaman keras dari berbagai pengamat internasional dan aktivis hak asasi manusia. Strategi yang dinilai sebagai diplomasi kapal perang ini dianggap dapat merusak stabilitas keamanan global secara permanen.

Direktur Advokasi kelompok hak asasi DAWN, Raed Jarrar, mengkritik keras pernyataan destruktif tersebut. Jarrar menyamakan retorika yang digunakan oleh Presiden Amerika Serikat itu bersama perilaku seorang bos mafia.

Menurutnya, tindakan mengancam kedaulatan negara lain secara terbuka melanggar hukum internasional yang berlaku.

“Piagam PBB melarang ancaman kekerasan terhadap negara mana pun, dan larangan itu mengikat Amerika Serikat sama bagaikan mengikat negara lain,” ujar Jarrar kepada Al Jazeera.

Jarrar juga menilai tindakan destruktif ini berpotensi merusak masa depan upaya perdamaian di Timur Tengah. Ketidakstabilan emosional pemimpin negara dianggap menjadi ancaman nyata untuk keberlangsungan sebuah perjanjian gencatan senjata.

Jarrar mengimbuhkan, “Mengancam akan ‘meledakkan’ sebuah negara Arab lantaran wilayah perairannya kebetulan berada di sepanjang jalur minyak yang ingin dibuka kembali oleh Washington merupakan logika tanpa hukum yang sama yang menghasilkan perang ini pada bulan Februari, dan ini merupakan sinyal teramat jelas bahwa gencatan senjata apa pun yang diperantarai oleh pihak pemerintahan ini cuma akan bertahan sampai kepala negara kehilangan kesabarannya lagi dalam rapat kabinet.”

Di sisi lain, pihak Gedung Putih secara tegas membantah keabsahan dokumen kesepakatan antara Iran dan Oman. Pemerintahan Trump melabeli laporan televisi pihak pemerintah Iran tersebut sebagai sebuah fabrikasi total dan berita bohong.

Selain isu Selat Hormuz, Trump memanfaatkan momentum tersebut demi menekan blok Arab lainnya. Ia menuntut negara-negara bagaikan Arab Saudi dan Qatar dalam waktu dekat meresmikan hubungan diplomatik formal bersama Israel.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *