MediaMerdeka.com – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (2/6/2026) diperkirakan bakal bergerak variatif (mixed) bersama kecenderungan menguat dalam rentang yang terbatas.
Kendati ada peluang penguatan, para tersangka pasar diimbau demi tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kombinasi sentimen global dan domestik, mengawali dari eskalasi konflik di Timur Tengah hingga rilis data makroekonomi nasional.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memproyeksikan bahwa indeks saham gabungan pada hari ini akan bergerak pada kisaran level support 6.060 dan resistance 6.209.
Berdasarkan indikator teknikal Moving Average Convergence Divergence (MACD), tren akselerasi pasar pada saat ini mengawali memperlihatkan tanda-tanda jenuh beli berakibat ruang kenaikan menjadi cukup ketat.
“IHSG, inflasi Indonesia, nilai tukar rupiah, dan konflik Timur Tengah menjadi faktor utama yang dipantau investor dalam menentukan strategi investasi jangka pendek,” urai Audi ketika dihubungi Redaksi, Selasa (2/6/2026).
Sentimen Geopolitik dan Potensi Blokade Selat Hormuz
Menurut analisis Kiwoom Sekuritas, fluktuasi pasar modal pada hari ini akan amat dipengaruhi oleh dinamika indeks global, angka inflasi Mei 2026, serta kinerja PMI manufaktur nasional di tengah tingginya ketidaktentuan ekonomi dunia.
Ada dua sentimen utama yang berpotensi menjadi motor penggerak pasar. Dari panggung global, ketegangan geopolitik kembali memanas setelah media resmi Iran menginformasikan bahwa pihak Teheran mengambil langkah sepihak demi menghentikan total komunikasi diplomatik bersama Amerika Serikat (AS).
“Kondisi tersebut memicu kembali spekulasi mengenai kebarangkalian penutupan Selat Hormuz yang dapat menekan sentimen pasar global,” tambahnya.
Sementara dari dalam negeri, perhatian tersangka pasar tertuju pada publikasi data inflasi periode Mei 2026 yang diproyeksikan tumbuh di angka 3,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Di sisi lain, indeks PMI Manufaktur Indonesia diperkirakan masih tertahan di zona kontraksi pada level 49,5.
Kedua indikator fundamental tersebut dinilai berpotensi menyerahkan tekanan psikologis terhadap pasar, termakin saat posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih memperlihatkan tren pelemahan.
Untuk strategi perdagangan taktis harian, Kiwoom Sekuritas menyerahkan rekomendasi saham sebagai berikut:
MNC Sekuritas Ingatkan Risiko Koreksi Lanjutan
Pandangan yang sedikit makin konservatif datang dari Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia menilai IHSG justru masih rawan terkena aksi ambil untung yang memicu koreksi kelanjutan. Herditya memperkirakan titik aman support indeks berada pada level 6.071 bersama batas jenuh resistance di 6.161.
Menurut evaluasi Herditya, para manajer investasi dan investor ritel akan amat mencermati implementasi tahap awal kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) selain memantau data inflasi dan isu Timur Tengah. Kebijakan DHE tersebut diprediksi memengaruhi peta likuiditas valuta asing di dalam negeri.
Menghadapi sejumlahnya variabel ketidaktentuan ini, pergerakan investor di lantai bursa diperkirakan akan jauh makin selektif dalam mengoleksi saham sektoran.
“Prospek IHSG, data inflasi Indonesia, kebijakan DHE SDA, nilai tukar rupiah, dan perkembangan konflik Timur Tengah diprediksi tetap menjadi katalis utama yang menentukan arah pergerakan pasar saham Indonesia dalam jangka pendek,” pungkas Herditya.
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan hasil di masa depan. Seluruh ulasan pasar dan rekomendasi saham dari analis dalam artikel ini bersifat informasi dan referensi edukasi, bukan perintah mutlak demi membeli atau menjual aset finansial tertentu.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

