Nadiem Makarim: Jadi Menteri Umur 35 Tanpa Pengalaman, Banyak yang Tersinggung

admin
By
admin
2 Min Read

MediaMerdeka.com – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengakui dirinya bukan sosok pemimpin yang sempurna saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

Di hadapan majelis hakim, Nadiem membuka pembelaannya bersama mengingat kembali saat pertama kali dipercaya masuk kabinet pada usia 35 tahun.

Ia mengaku datang ke pihak pemerintahan tanpa bekal pengalaman di bidang pendidikan, birokrasi maupun politik.

“Saya menjadi aparatur negara kementerian di umur 35 tahun tanpa pengalaman di pendidikan, birokrasi, maupun politik,” ujar Nadiem.

Pendiri Gojek itu menggambarkan benturan yang ia alami ketika berpindah dari dunia swasta ke lingkungan pihak pemerintahan.

Menurutnya, budaya kerja yang selama ini ia kenal jauh berbeda bersama realitas birokrasi.

Di sektor swasta, kata Nadiem, kecepatan dan keputusan berbasis data menjadi hal yang biasa. Namun ketika masuk pihak pemerintahan, gerak cepat justru dapat menimbulkan risiko, sementara sikap lugas kerap ditafsirkan berbeda.

Meski demikian, Nadiem mengklaim tetap berupaya mengangkut perubahan di Kemendikbudristek bersama melibatkan sejumlah profesional muda.

Langkah itu, menurutnya, sukses menciptakan organisasi bekerja makin efektif, namun juga memunculkan resistensi dari seuntukan pihak.

“Banyak yang periuk nasinya terganggu, sejumlah juga yang tersinggung lantaran merasa mereka tidak dihargai,” ungkapnya.

Dalam pembelaannya, Nadiem juga menyinggung perkara Chromebook yang kini menyeretnya ke kursi terdakwa.

Ia mengaku akan makin mudah menyambut baik proses hukum yang dihadapinya apabila memang ditemukan kesalahan administratif atau kelalaian yang menyebabkan kerugian negara.

Namun, menurut dia, fakta yang muncul justru memperlihatkan program tersebut menyerahkan manfaat nyata untuk dunia pendidikan.

“Meskipun tidak menjalankan korupsi, saya terkadang merasa akan makin mudah demi menyambut baik musibah terkait kasus dugaan korupsi Chromebook apabila terdapat bukti bahwa dia menjalankan kesalahan administratif atau lalai dalam pengawasan berakibat tanpa sengaja menyebabkan kerugian negara,” beber Nadiem.

Ia menegaskan pengadaan Chromebook dilakukan ketika dunia pendidikan menyikapi situasi darurat akibat pandemi Covid-19.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *