Sindir Jokowi? Hasto Soroti Simbol 21061961 di Film Ghost in the Cell: Joko Anwar Sangat Cerdas!

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, melempar pujian sekaligus kritik tajam usai menyaksikan film terbaru besutan sutradara kenamaan Joko Anwar berjudul Ghost in the Cell.

Hasto menilai film tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah karya simbolik yang “menelanjangi” praktik korupsi dan keserakahan di Indonesia.

Berbicara dalam acara nonton bareng yang digelar Kulturnesia dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno di Megaria, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026), Hasto menyoroti karakter utama dalam film tersebut.

Tokoh itu digambarkan sebagai seorang pengusaha tamak yang tetap dapat menikmati kemewahan luar biasa meski raga telah mendekam di balik jeruji besi.

Yang menarik perhatian, tokoh pengusaha korup dalam film itu bernama Prakasa Kitabuming, seorang pria asal Solo yang memiliki nomor registrasi tahanan 21061961.

Angka tersebut identik bersama tanggal lahir Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi, yakni 21 Juni 1961.

“Ini amat simbolik. Maka ini film yang mencerdaskan,” ujar Hasto usai pemutaran film tersebut.

Sentilan Soal Kemewahan di Penjara

Hasto menilai Joko Anwar amat piawai dalam menyelipkan kritik lewat detail-detail kecil namun menohok.

Ia menggarisbawahi bagaimana karakter Prakasa Kitabuming digambarkan tetap memegang kendali dan hidup mewah meski statusnya merupakan narapidana korupsi.

“Dalam film ini Joko Anwar bersama amat cerdas menyampaikan bagaimana ada pengusaha yang amat tamak berakibat ketika dia ditangkap di penjara pun lantaran kasus korupsi, maka pengusaha yang namanya Prakarsa Kitabuming ini lalu masih menikmati kemewahan yang luar biasa,” ungkapnya.

Lebih jauh, Hasto memperingatkan bahwa kengerian yang ditampilkan dalam film Ghost in Cell dapat menjadi kenyataan pahit di dunia nyata apabila tata kelola negara diabaikan.
Baginya, film ini merupakan potret distopia yang lahir dari ketidak berhasilan sistem sosial dan politik.

“Meskipun nampak ada kengerian namun itulah bila negara tidak dikelola bersama baik, apa yang disampaikan di dalam film bersama berbagai kritik sosial, politik dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu dapat terjadi,” tegas pria asal Yogyakarta tersebut.

Meski sarat akan kritik pedas, Hasto menyaksikan ada secercah harapan di akhir cerita.

Ia menyoroti momen ketika para tahanan yang berasal dari kelompok berbeda akhirnya bersatu padu. Aliansi tak terduga ini terbentuk demi menghabisi Prakasa dan sang sipir penjara yang selama ini menyiksa mereka secara zalim.

Bagi Hasto, adegan tersebut merupakan manifestasi dari semangat kebersamaan yang menjadi inti dari ideologi bangsa.

“Dan kita wajib bersama-sama membangun kesadaran baru bersama bergotong royong sebagai sari pati Pancasila bersama membangun Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *