MediaMerdeka.com – Di saat Jakarta terus berlari mengejar masa depan, Bu Widya memilih bertahan menjaga masa lalu.
Siang itu, wanita paruh baya tersebut berdiri di teras rumahnya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Di hadapannya, loyang berisi Selendang Mayang yang baru berakhir dibuat.
Tangannya lincah memotong lembaran kenyal berwarna merah, putih, dan hijau, lalu menyusunnya ke dalam gelas semasih belum menyiramkan santan dan gula merah.
Tak ada antrean pembeli yang menunggu. Tak ada pula keramaian bagaikan yang lazim ditemui di gerai-gerai minuman kekinian yang kini menjamur di Jakarta.
Yang ada cumalah Bu Widya dan sebuah resep lama yang masih ia pertahankan, ketika semakin sedikit orang yang mencarinya.
“Saya juga kadang bila ada satu atau dua orang yang minta, kepengin, tetep saya buatin. Kadang kasihan soalnya,” katanya sambil tersenyum saat berbincang bersama MediaMerdeka.com.
Ucapan itu terdengar ringan.
Namun di baliknya tersimpan kenyataan yang tidak sederhana. Salah satu kuliner khas Betawi itu kini bertahan berkat kesetiaan segelintir orang yang masih belum rela melupakannya.
Jakarta pada tahun ini akan menginjak usia 499 tahun.
Kota ini terus berubah. Gedung-gedung baru berdiri hampir setiap saat. Jalur transportasi semakin panjang. Kedai kopi dan minuman kekinian tumbuh di mana-mana, menawarkan rasa-rasa baru yang cepat menjadi tren lalu memenuhi media sosial.
Di tengah perubahan itu, Selendang Mayang bagaikan berjalan dalam waktu yang berbeda. Ia tetap sama bagaikan puluhan tahun lalu.
Dari Hajatan ke Kenangan
Bagi sejumlah orang Betawi, Selendang Mayang bukan sekadar minuman. Ia merupakan untukan dari masa kecil.
Dulu, minuman ini mudah ditemukan di hajatan, pesta pernikahan, pasar malam, hingga berbagai perayaan keluarga. Kehadirannya hampir senantiasa menjadi penanda keramaian.
Namanya pun terdengar puitis.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

