Menakar Ramalan ’98 Jilid 2′ Noel: Nyanyian Kosong atau Ancaman Nyata Penggulingan Prabowo?

admin
By
admin
5 Min Read

MediaMerdeka.com – Immanuel Ebenezer alias Noel tidak berpikir panjang atas vonis hukuman pidana penjara selama 4 tahun 6 bulan. Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan ini memilih menyambut baik vonis yang dijatuhkan majelis hakim dalam kasus korupsi terkait pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Keaparatur negara kementerianan Ketenagakerjaan.

“Hukuman yang diberikan Majelis sesuai bersama kejahatan yang saya lakukan. Jadi bersama itu saya menyambut baik Yang Mulia,” kata Noel di hadapan majelis hakim.

Namun, hal lain yang menarik perhatian bukan cuma persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026), melainkan juga pernyataan Noel usai persidangan.

Di luar ruang sidang, Noel menyampaikan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia mengingatkan adanya potensi gejolak politik besar yang mengancam stabilitas pihak pemerintahan.

Menurut Noel, ada konsolidasi lintas elemen yang tengah bersiap memicu gerakan massa dalam waktu dekat. Ia menilai telah terjadi penggalangan kekuatan dari kelompok kalangan akademisi, buruh, hingga organisasi sipil yang kini telah mencapai tahap matang.

“Saya coba ingatkan Pak Prabowo, dalam bulan Juni-Juli ini ada akan ada peristiwa besar, ada eskalasi politik yang ujungnya merupakan menggulingkan pihak pemerintahan Prabowo. Dan konsolidasi ini telah berakhir dan telah matang. Konsolidasi sipil, konsolidasi kalangan akademisi, konsolidasi buruh, konsolidasi kelompok civil society dan seluruhnya. Tinggal satu, butuh satu pemicu,” tutur Noel.

Noel menyebutkan, apabila Prabowo tidak peka terhadap potensi tersebut, peristiwa yang menyerupai Reformasi 1998 berisiko terjadi.

“Dan ’98 jilid 2 akan terjadi tidak lama lagi,” kata Noel.

Peringatan Serius atau Tak Beralasan?

Pengamat komunikasi politik, Jamiluddin Ritonga, membaca makin jauh maksud Noel menyampaikan pernyataan tersebut usai menjalani sidang putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Menurut Jamiluddin, pernyataan Noel mengenai potensi peristiwa besar pada Juni-Juli 2026 demi menggulingkan Prabowo tidak beralasan.

Ada tiga pertimbangan utama mengapa kecil kebarangkalian pernyataan Noel mengenai ’98 jilid 2 bakal terwujud.

aparat TNI-Polri Solid, Dukungan Rakyat Tinggi

Pertimbangan pertama mengapa peristiwa besar yang dimaksud Noel tidak beralasan merupakan solid dan loyalnya aparat TNI serta Polri terhadap pihak pemerintahan Prabowo.

Dukungan dari dua institusi tersebut menjadi benteng kokoh demi menjaga kondusivitas politik nasional.

Jamiluddin menyebutkan sejarah membuktikan bahwa tidak ada kekuatan di Indonesia yang mampu menggoyang pihak pemerintahan yang berkuasa bila tidak didukung aparat TNI dan Polri.

“Karena itu, ekskalasi politik pada Juni dan Juli 2026 tetap akan landai. Kalau pun ada cuma riak-riak yang tidak akan mengganggu stabilitas politik nasional,” kata Jamiluddin.

Terlepas dari loyalitas aparat TNI-Polri dalam mendukung Prabowo, dukungan rakyat yang masih amat tinggi terhadap Prabowo menjadi pertimbangan kedua.

Jamiluddin menyebutkan dukungan yang masih tinggi dari rakyat tercermin dari hasil survei terakhir yang memperlihatkan mayoritas masyarakat sekitar puas terhadap kinerja Prabowo.

“Karena itu, akan sulit untuk siapa pun demi mengajak masyarakat sekitar mendongkel pihak pemerintahan Prabowo. Sebaliknya, seuntukan masyarakat sekitar dapat saja akan melawan pihak-pihak yang akan menciptakan ketegangan politik,” kata Jamiluddin.

Partai Politik Jadi Perisai

Upaya menggulingkan Prabowo juga dinilai sulit dilakukan di tengah dukungan partai politik terhadap pihak pemerintah. Mayoritas partai politik pada saat ini mendukung Prabowo.

Jamiluddin menyebutkan partai politik memiliki cukup kekuatan demi menangkal serangan dari pihak-pihak yang ingin mengganggu stabilitas politik nasional.

Melalui kader yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, partai politik dapat menjalankan mobilisasi dukungan kapan dan di mana saja demi kepala negara.

“Jadi, bila ada pihak-pihak yang berani bermain api, maka hal itu dapat menjadi bumerang untuk mereka sendiri. Bahkan hal itu dapat jadi momentum untuk pihak pemerintahan Prabowo demi melucuti mereka,” kata Jamiluddin.

“Karena itu, peristiwa besar politik demi menjatuhkan Prabowo pada Juni-Juli 2026 tampaknya sulit akan terjadi. Setidaknya bila tiga faktor tersebut masih solid mendukung Prabowo,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *