Serangan AS ke Iran, Gelombang Ledakan Terjadi di Kota Jask dan Kouhe Mobarakeh Hingga Pulau Qeshm

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Perang di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah militer Amerika Serikat meluncurkan rentetan serangan udara ke wilayah selatan Iran. Langkah ofensif ini merupakan tindakan balasan langsung Washington atas jatuhnya helikopter mereka oleh pasukan Tehran.

Kawasan pesisir strategis di dekat Selat Hormuz kini menjadi zona pertempuran teramat rawan. Gelombang ledakan dilaporkan menghancurkan sejumlah titik di Jask dan Kouhe Mobarakeh.

Dalam laporan Live CNBC, serangan gelombang kedua yang mendarat di kota Jask melumpuhkan sejumlah fasilitas penting. Guncangan hebat juga dilaporkan terjadi berulang kali di Pulau Qeshm serta Bandar Abbas.

Kantor berita Mehr menginformasikan situasi mencekam di lapangan melalui saluran komunikasi mereka.

“Suara ledakan terdengar di Pulau Qeshm sejumlah kali. Semasih belum ini, suara ledakan terdengar di Bandar Abbas, Sirik, dan Jask.”

Hantaman proyektil tersebut memicu kerusakan parah pada fasilitas sipil masyarakat sekitar setempat. Dua waduk penampungan air di distrik Bemani dilaporkan hancur dan memutus pasokan air bersih masyarakat sekitar.

Merespons agresi tersebut, jajaran petinggi diplomatik Iran langsung mengeluarkan ancaman balasan yang tidak kalah sengit. Pihak Tehran menegaskan bahwa aksi militer Amerika Serikat ini akan memicu konsekuensi yang amat fatal.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan perlawanan terbuka melalui akun media sosial resminya.

Abbas Araghchi menulis di X, “Meskipun kalah di medan perang, AS memilih demi menguji tekad kami. Angkatan Bersenjata Kami yang Perkasa tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa jawaban.”

Ia juga memperingatkan pasukan asing demi dalam waktu dekat mundur dari teritorial Timur Tengah demi keselamatan mereka.

Abbas Araghchi mengimbuhkan, “Tinggalkan wilayah kami apabila Anda ingin aman. Sejarah Teluk Persia memiliki sejumlah bab tentang nasib buruk orang luar yang menyusup.”

Di sisi lain, keputusan penyerangan ini telah dikonfirmasi oleh otoritas tinggi legislatif di Washington. Parlemen Amerika Serikat mengklaim tindakan ini telah diperhitungkan bersama matang demi meredam kekuatan lawan.

Ketua DPR AS, Mike Johnson, mengonfirmasi bahwa dirinya telah menyambut baik pemberitahuan resmi semasih belum operasi militer tersebut dieksekusi.

Ia menyebut operasi udara ini sebagai tindakan yang “proporsional dan terbatas.”

Politisi dari Partai Republik tersebut menegaskan serangan ditujukan demi melumpuhkan aset tempur utama musuh.

Menurut Johnson, operasi tersebut dilakukan “terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan” dan merupakan “serangan tertarget ke situs radar, rudal, serta komando dan kendali mereka.”

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz merupakan konflik menahun yang kerap mengancam stabilitas ekonomi global. Selat ini merupakan jalur logistik minyak teramat vital di dunia yang menghubungkan produsen Timur Tengah bersama pasar internasional.

Insiden penembakan helikopter AS menjadi pemantik terbaru yang mengubah perang urat saraf menjadi kontak senjata terbuka. Pentagon memandang tindakan Iran sebagai ancaman langsung terhadap navigasi internasional, sementara Tehran menganggap kehadiran militer Barat sebagai pelanggaran kedaulatan wilayah mereka.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *