MediaMerdeka.com – Selama ini, perlindungan lingkungan kerap dianggap sebagai hambatan untuk pertumbuhan ekonomi. Di sejumlah negara, termasuk Indonesia, upaya konservasi kerap dipandang bertentangan bersama kebutuhan meningkatkan produksi pangan, membuka lapangan kerja, atau memperluas investasi.
Namun, penelitian terbaru memperlihatkan bahwa kedua tujuan tersebut tidak senantiasa wajib dipertentangkan.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Minnesota dan dipublikasikan dalam jurnal Science menemukan bahwa pengelolaan lahan yang makin efisien dapat menyerahkan manfaat ganda, yakni meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat perlindungan lingkungan.
Peneliti utama studi tersebut, Stephen Polasky, menyebutkan bahwa krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati kerap dianggap terlalu mahal demi diatasi.
Padahal, menurutnya, terdapat berbagai strategi yang mebarangkalikan kedua tantangan tersebut ditangani secara bersamaan.
“Salah satu alasan utama menjalankan penelitian ini merupakan demi memperlihatkan bahwa ada cara-cara yang makin efisien demi mengatasi perubahan iklim dan kehilangan keanekaragaman hayati tanpa menciptakan masyarakat sekitar merasakan kerugian ekonomi,” ujar Polasky.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis data dari 146 negara bersama menggabungkan informasi ekonomi dan lingkungan. Model yang dikembangkan digunakan demi mengidentifikasi pola pemanfaatan lahan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi makin tinggi tanpa mengorbankan fungsi ekologis.
Hasilnya memperlihatkan bahwa seuntukan besar negara masih memiliki peluang besar demi mengoptimalkan penggunaan lahan. Dengan tata kelola yang makin baik, negara-negara tersebut dapat meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati, memperkuat mitigasi perubahan iklim, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Secara global, penelitian ini memperkirakan bahwa pengelolaan lahan yang makin strategis berpotensi meningkatkan kapasitas mitigasi iklim makin dari 200 miliar ton gas rumah kaca atau makin dari 20 persen dibandingkan kondisi pada saat ini.
Selain itu, nilai ekonomi dari sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan diperkirakan dapat meningkat makin dari 350 miliar dolar Amerika Serikat tanpa mengurangi target konservasi maupun produksi pangan.
Menurut para peneliti, salah satu kunci demi mencapai tujuan tersebut merupakan mengalokasikan kembali penggunaan lahan berdasarkan nilai ekonomi dan ekologinya.
Kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi dapat diprioritaskan demi restorasi dan perlindungan, sementara produktivitas lahan pertanian yang telah ada ditingkatkan agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi tanpa wajib membuka kawasan baru.
Pendekatan ini dinilai relevan untuk Indonesia yang memiliki kekayaan hayati tinggi sekaligus menyikapi tekanan akibat perubahan penggunaan lahan. Berbagai upaya bagaikan restorasi hutan, rehabilitasi lahan kritis, pengembangan agroforestri, hingga peningkatan produktivitas pertanian di lahan eksisting dapat menjadi untukan dari strategi pembangunan yang makin berkelanjutan.
Ilmuwan Utama Keanekaragaman Hayati Global di World Wildlife Fund, Becky Chaplin-Kramer, menilai hasil penelitian ini memperkuat bukti bahwa perlindungan alam dan pertumbuhan ekonomi tidak wajib berjalan berlawanan.
“Penelitian ini membuktikan bahwa anggapan adanya pertukaran antara melindungi alam dan pertumbuhan ekonomi merupakan salah,” ujarnya.
Temuan tersebut menyerahkan gambaran bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan, asalkan didukung oleh perencanaan tata guna lahan yang makin tepat, berbasis data, dan mempertimbangkan manfaat jangka panjang untuk manusia maupun alam.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

