Ekonom Sayangkan Harga BBM Naik Terlalu Tinggi, Padahal Pemerintah Bisa Cegah Sejak Awal

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyayangkan langkah PT Pertamina (Persero) yang terlalu lama menunda kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menilai bahwa akibat penundaan tersebut, penyesuaian yang dilakukan pada saat ini memicu lonjakan harga yang terlampau tinggi dan berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi (shock) signifikan untuk masyarakat sekitar.

“Mungkin lantaran juga ditunda, berakibat kenaikan harganya lonjakannya cukup besar. Nah itu yang barangkali saya sayangkan. Seandainya ada pengkondisian sejak awal itu dinaikan pelan-pelan, nah ini barangkali dapat makin baik hasilnya tidak menimbulkan shock yang terlalu besar,” kata Faisal kepada MediaMerdeka.com, Rabu (10/6/2026).

Ia menerangkan bahwa sebagai produk BBM non-subsidi, harga Pertamax sejatinya bersifat fluktuatif mengikuti pergerakan harga minyak mentah internasional atau Indonesia Crude Price (ICP). Meski ICP telah merangkak naik sejak sejumlah bulan lalu, Pertamina baru memutuskan demi mengerek tarif Pertamax pada saat ini.

Menurutnya, keterlambatan respons ini tidak lepas dari status Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Berbeda bersama badan usaha swasta yang bergerak murni atas pertimbangan profit komersial, Pertamina memikul tanggung jawab pelayanan publik atau public service obligation (PSO).

“BUMN itu perlu menyaksikan bagaimana menjalankan fungsi PSO-nya. Nah, sementara Pertamax ini merupakan BUMN non-subsidi yang makin lama penggunaannya itu makin besar, proporsinya terhadap total konsumsi BUMN itu makin besar,” papar dia.

Ia memprediksi bila kenaikan harga BBM ini kebarangkalian konsumsi Pertamax telah memakini 30 persen, bahkan hampir 40 persen. Maka dari itu kenaikan harga Pertamax sebenarnya telah dapat diprediksi dan tinggal menunggu waktu.

Namun ia menyayangkan besarnya lompatan harga yang terjadi akibat penundaan penyesuaian tersebut. Kenaikan yang terjadi secara mendadak dan dalam skala besar ini ditentukan akan memukul daya beli konsumen dan memberi tekanan langsung pada angka inflasi nasional.

Faisal mengimbuhkan, dampak lain dari lonjakan harga yang terlampau tinggi ini merupakan besarnya potensi tersangka ekonomi atau konsumen demi beralih ke jenis BBM makin murah bagaikan Pertalite.

Namun Faisal mengingatkan bahwa proses migrasi konsumsi ke BBM Pertalite tidak akan berjalan mudah. Sebab Pemerintah dan Pertamina telah memperketat pengawasan penyaluran BBM bersubsidi demi menjaga kuota APBN agar tidak jebol.

“Jadi peralihan konsumen dari Pertamax ke kelas di bawahnya itu juga tidak amat susah demi dilakukan pada saat kini lantaran kontrol dalam hal penggunaan dan juga ada kuota, ada pembatasan dari suplai yang demi Pertalite dan juga Solar,” pungkasnya.

Diketahui PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga BBM Pertamax per 10 Juni 2026. Pertamax RON 92 naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sedangkan Pertamax Green Ron 95 naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Berikut harga BBM Pertamina terbaru 10 Juni 2026

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *