MediaMerdeka.com – Angin segar diplomasi internasional langsung memicu gairah besar di pasar keuangan kawasan Asia pada perdagangan Senin pagi.
Langkah taktis Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian konflik bersenjata menjadi motor utama lonjakan indeks saham.
Keputusan krusial ini memutus rantai kecemasan global bersama menjamin pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Sentimen positif tersebut seketika memicu aksi beli masif hingga mendongkrak performa seluruh bursa utama regional.
Indeks Hang Seng di Hong Kong dan Shanghai Composite di China kompak melaju signifikan bersama kenaikan masing-masing sebesar 1,2 persen hingga pukul 10.15 waktu setempat.
Lonjakan teramat fantastis terjadi di Tokyo saat indeks acuan Nikkei 225 meroket 5,4 persen sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Kondisi serupa melanda bursa Korea Selatan yang memperlihatkan indeks Kospi melambung tinggi hingga menyentuh angka 5 persen.
Sebaliknya, prospek kelancaran pasokan energi dari Timur Tengah justru menyerahkan tekanan berat pada sektor komoditas dunia.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) perdagangan berjangka AS merosot 4,8 persen, sementara varian Brent rontok 4 persen.
Pergerakan kontras ini terjadi setelah Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan pembebasan blokade armada laut di wilayah Iran.
Meskipun rincian klausul perdamaian masih belum dirilis menyeluruh, otoritas Teheran mengonfirmasi penandatanganan resmi akan digelar di Swiss pada Jumat ini.
Semasih belum titik temu ini tercapai, volatilitas ekstrem terus mengombang-ambingkan pasar saham dan harga minyak mentah global akibat fluktuasi negosiasi.
Konflik berkepanjangan kedua negara tersebut semasih belumnya sempat melumpuhkan hampir seperlima dari total volume distribusi minyak bumi dunia.
Kondisi mencekam itu sempat memicu kelangkaan energi akut yang mengancam stabilitas finansial dan pertumbuhan ekonomi negara-negara importir.
Asia menjadi kawasan yang teramat rentan terpukul mengingat tingginya angka ketergantungan manufaktur mereka terhadap pasokan Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz terbukti menyumbat distribusi komoditas vital yang dibutuhkan demi industri teknologi tinggi serta sektor pertanian.
Kendati ketegangan mereda, para pengamat memperingatkan bahwa pemulihan total aktivitas perdagangan tidak dapat terjadi dalam sekejap mata.
Sejumlah analis memproyeksikan butuh waktu berbulan-bulan agar arus logistik kembali normal bagaikan sedia kala semasih belum perang pecah.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

