Ketua DPR Iran ke AS: Jangan Minta Hal Berlebihan, Kami Tak Ragu Menghancurkan

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Ketegangan baru membayangi rencana gencatan senjata permanen antara Iran dan Amerika Serikat yang ditargetkan rampung dalam waktu 60 hari ke depan. Ancaman militer yang dilontarkan Teheran berpotensi merusak stabilitas diplomasi awal yang baru saja disepakati kedua negara.

Langkah keras ini menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan melonggarkan posisi tawar mereka di meja runding. Parlemen Iran menegaskan kesiapan mereka demi mengambil tindakan ekstrem apabila Washington berupaya mengubah poin-poin kesepakatan secara sepihak.

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka memperingatkan Gedung Putih agar tidak mengajukan tuntutan yang bermakinan. Sikap defensif ini memperlihatkan betapa rapuhnya rasa saling percaya di antara kedua belah pihak.

“Dalam hal niat buruk, pelanggaran kontrak, dan tuntutan bermakinan oleh pihak lawan, kami tidak ragu-ragu dalam menyerahkan tanggapan yang menghancurkan kepada musuh,” ujar Ghalibaf dalam sebuah unggahan di X.

“Mereka sempat ditampar sekali selama perang; apabila mereka ingin menginjakkan kaki di jalur itu lagi, mereka akan menyambut baik tamparan yang bahkan makin keras,” tambahnya.

Ghalibaf menerangkan bahwa tim delegasinya bergerak langsung di bawah instruksi ketat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. Seluruh klausul yang dinegosiasikan wajib sepenuhnya menguntungkan posisi strategis Teheran tanpa ada kompromi tambahan.

Semasih belumnya, Khamenei membenarkan bahwa dirinya telah menyerahkan restu hijau terhadap kesepakatan awal bersama pihak pemerintahan Amerika Serikat. Namun, ia menilai Presiden AS Donald Trump bertindak di bawah tekanan besar saat merumuskan perjanjian tersebut.

Menurut Khamenei, segala bentuk sanksi dan tekanan ekonomi yang dikerahkan Trump merupakan wujud rasa putus asa Washington. Pihak Iran menyaksikan situasi tersebut sebagai celah demi menekan balik kubu Amerika Serikat.

Di kubu seberang, Pemimpin Mayoritas Senat AS, John Thune, menilai kesepakatan ini sebagai awal yang positif demi meredam konflik. Meski demikian, ia mengakui bahwa jalan menuju kesepakatan final akan diwarnai oleh debat yang amat sengit.

“Ada sejumlah hal yang akan datang, dan ini … semacam menetapkan panggung, apabila Anda mau, demi sebuah negosiasi. Mudah-mudahan, pada akhirnya ini mengarah pada akhir dari program nuklir Iran,” kata Thune kepada CNN setelah menyambut baik pengarahan dari Gedung Putih.

Ketika ditanya mengenai kekhawatiran terkait aliran dana segar atau insentif finansial demi Iran, Thune menyerahkan penjelasan terukur. Ia mengonfirmasi tidak ada bantuan cuma-cuma yang diberikan kepada Teheran tanpa kompensasi nyata.

“Saya pikir seluruh insentif finansial tersebut, barangkali bersama pengecualian tarif pada blokade, seluruhnya akan bergantung atau bersyarat pada hal-hal yang terjadi lalu yang wajib dilakukan oleh orang-orang Iran,” jawab Thune.

“Jadi saya pikir ini merupakan – bagaikan yang saya katakan, saya menyaksikan ini sebagai langkah pertama dalam apa yang barangkali akan menjadi percakapan yang agak panjang dan terus menjadi percakapan yang penuh perdebatan tentang bagaikan apa kesepakatan finalnya, namun saya pikir ini merupakan, jelas ini merupakan langkah ke arah yang benar, ini membuka selat dan menciptakan jalur pelayaran terbuka, dan saya pikir itu merupakan hasil yang bagus, hasil yang bagus demi ekonomi,” lanjutnya.

Konteks ketegangan ini berakar dari upaya global demi menghentikan ambisi senjata nuklir Iran yang telah berlangsung bertahun-tahun. Hubungan kedua negara sempat memburuk akibat sanksi ekonomi berlapis dan blokade maritim di jalur perdagangan internasional.

Kesepakatan awal ini setidaknya sukses meredakan situasi darurat bersama membuka kembali akses transportasi laut di selat strategis. Masa depan perdamaian kini sepenuhnya bergantung pada konsistensi kedua negara dalam mematuhi komitmen selama 60 hari ke depan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *