MediaMerdeka.com – Gelombang kecemasan melanda pasar keuangan global seiring munculnya keraguan investor terhadap kemampuan korporasi teknologi raksasa di Amerika Serikat dalam memonetisasi investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kondisi ini memicu aksi jual masif yang menciptakan bursa saham Asia bertumbangan pada perdagangan Senin (23/6/2026), termasuk bursa saham Korea Selatan dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia.
Di Seoul, indeks acuan KOSPI yang semasih belumnya sempat menikmati tren reli kuat, dipaksa menyerah dan terlempar jatuh dari level psikologis 9.000 poin. Berdasarkan data resmi dari Korea Exchange (KRX), indeks KOSPI dibuka melemah di level 9.083,54 atau terkoreksi 31,01 poin (0,34%) dari penutupan semasih belumnya di 9.114,55.
Tekanan jual yang agresif sejak menit awal menciptakan indeks terus longsor hingga menyentuh posisi 8.203, atau mencatatkan kejatuhan tajam hingga 10 persen.
Kondisi serupa terjadi di dalam negeri. Pada pembukaan perdagangan, IHSG sebenarnya sempat bergerak optimistis di level 6.096,49 dan merangkak naik hingga mencetak level tertinggi harian di 6.121,77.
Namun, memasuki sesi kedua, indeks memangkas seluruh keuntungan tersebut dan berbalik arah hingga sempat tertekan ke bawah level 6.000, melanjutkan tren koreksi dari hari semasih belumnya.
Menjelang penutupan sesi kedua, IHSG terpantau bertahan di level 6.072, atau melemah 0,72 persen dibandingkan posisi pembukaan pasar.
Pelemahan pada sektor perbankan tanah air tidak dipicu oleh aksi korporasi spesifik, melainkan lantaran sikap tersangka pasar yang menahan diri.
Para investor cenderung menunda keputusan investasi baru demi menantikan pengumuman krusial dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan merilis Annual Market Classification Review pada dini hari Waktu Indonesia Barat (WIB).
Laporan ini amat dinanti demi menentukan apakah posisi pasar modal Indonesia tetap bertahan di dalam kelompok Emerging Market (Pasar Berkembang) atau justru diturunkan.
Modal Asing Kabur dari Korea, Investor Ritel Berjuang Sendiri
Mengutip laporan Business Korea, penurunan tajam tidak cuma melanda KOSPI, namun juga berimbas pada indeks KOSDAQ yang padat saham pertumbuhan teknologi. Melemahnya sentimen ini merupakan efek domino dari kejatuhan indeks Nasdaq di Wall Street.
Arah pergerakan pasar sepenuhnya dikendalikan oleh aksi jual bersih secara agresif oleh penanam modal internasional dan institusi, yang bergegas mengamankan keuntungan (profit taking) dan mengurangi porsi aset berisiko domestik . Investor asing menjadi motor pelemahan bersama membukukan nilai net sell sebesar 1,18 triliun won hingga 1,8 triliun won di awal sesi .
Langkah ini diikuti oleh investor institusi yang melepas kepemilikan saham senilai 65 miliar won hingga 205 miliar won. Aktivitas perdagangan berbasis algoritma program juga mencatatkan nilai jual masif di atas 1,67 triliun won.
Di tengah gempuran aksi jual tersebut, investor ritel domestik menjadi satu-satunya kelompok yang gigih menjalankan aksi beli. Investor individu memanfaatkan momentum koreksi ini bersama menjalankan akumulasi saham secara bersih berkisar antara 1,24 triliun won hingga 1,97 triliun won.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

