MediaMerdeka.com – Saat membicarakan transisi energi, perhatian kerap tertuju pada kapasitas pembangkit, investasi, atau target penurunan emisi. Padahal, kesuksesan transisi tidak cuma ditentukan oleh teknologi yang tersedia, namun juga oleh orang-orang yang akan merancang, membangun, dan mengoperasikannya.
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika energi surya mengawali mendapat ruang makin besar dalam arah kebijakan energi nasional. Namun di tengah optimisme pertumbuhan industri, muncul tantangan yang jarang menjadi pusat pembahasan, kesiapan sumber daya manusia (SDM).
Menurut Co-Founder & Director of Technology Xurya, Edwin Widjonarko, industri energi surya di Indonesia pada saat ini telah mengawali memasuki fase pertumbuhan.
Permintaannya meningkat, jumlah tersangka usaha bertambah, dan ekosistemnya mengawali berkembang. Tetapi perkembangan tersebut masih belum senantiasa diikuti oleh kesiapan tenaga kerja bersama kualitas yang merata.
“Yang menurut saya masih jarang dibicarakan justru kesiapan SDM. Karena industri ini berkembang cepat, jumlah korporasi EPC (Engineering, Procurement, and Construction) dan installer juga bertambah. Tapi kualitas tenaga kerjanya masih belum senantiasa setara bersama kebutuhan industrinya,” kata Edwin.
Green jobs berpotensi tumbuh, namun tidak otomatis mudah diisi
Tantangan ini juga terlihat dalam riset Coaction Indonesia berjudul Kesiapan Pasar Tenaga Kerja dalam Pengembangan Green Jobs di Sektor Energi Terbarukan.
Studi tersebut memproyeksikan bahwa transisi energi menuju target Net Zero Emission melalui pengembangan energi terbarukan dapat menciptakan 6,31–10,19 juta lapangan kerja bersih hingga 2060.
Energi surya diperkirakan menjadi salah satu penyumbang terbesar bersama potensi 1,86–4,57 juta pekerjaan.
Namun, di balik proyeksi tersebut, penelitian menemukan paradoks yang menarik: tenaga kerja tersedia, namun korporasi tetap merasakan kesulitan merekrut.
Banyak lulusan sebenarnya memiliki latar pendidikan yang sesuai. Namun ketika masuk ke dunia kerja, kemampuan yang dimiliki masih belum senantiasa menjawab kebutuhan operasional industri.
Riset tersebut menyebut tantangan utamanya bukan pada ketersediaan tenaga kerja, melainkan pada kedalaman keterampilan teknis dan kemampuan menerjemahkan teori menjadi penyelesaian masalah di lapangan.
Masalahnya bukan kekurangan teori, namun minim pengalaman praktik
Edwin menyaksikan kondisi yang serupa dari pengalaman industri. Menurutnya, secara umum arah pendidikan telah cukup baik. Banyak tenaga kerja memiliki fondasi teori yang kuat. Tetapi ketika wajib bekerja dalam kondisi nyata, masih muncul jarak antara apa yang dipelajari dan apa yang dibutuhkan.
“Fondasinya sebenarnya telah bagus. Tapi saat wajib diaplikasikan ke situasi nyata masih kurang nyambung,” ujarnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

