Tiga Manajer KDMP dan KNMP Meninggal di Latsarmil! DPR Desak Evaluasi Total Latihan Fisik

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen aparat TNI (Purn) TB Hasanuddin, menyampaikan keprihatinan mendalam menyusul meninggalnya tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Para peserta tersebut gugur saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) demi posisi pengelola koperasi.

Hingga pada saat ini, tercatat tiga sarjana meninggal dunia dalam rangkaian pelatihan tersebut, yakni Anisa Muyassaroh di Balikpapan, Yonanda Muhammad Taufiq di Baturaja, dan Novia Rahmadhani Sihotang di Jakarta.

Ketiganya merupakan calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).

TB Hasanuddin menegaskan bahwa insiden ini wajib menjadi momentum evaluasi menyeluruh, terutama terkait relevansi beban fisik latihan bersama tujuan jabatan manajerial yang akan diemban peserta.

“Kalau memang peserta dipersiapkan demi jabatan manajerial di Koperasi Desa, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara relevan,” ujar TB Hasanuddin kepada wartawan, Kamis (25/6/2026).

Menurut purnawirawan jenderal bintang dua ini, unsur militer untuk masyarakat sekitar sipil pengelola koperasi sewajibnya cuma bertujuan demi menanamkan kedisiplinan dan kekompakan, bagaikan baris-berbaris (PBB) atau apel tepat waktu, bukan latihan fisik berat yang berisiko fatal.

Selain beban latihan, ia menyoroti pentingnya akurasi dalam proses seleksi kesehatan awal oleh tim dokter semasih belum peserta diizinkan mengikuti aktivitas fisik.

“Pemeriksaan kesehatan wajib dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan bersama beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal,” tegasnya.

Atas kejadian tersebut, TB Hasanuddin pun mendesak pihak penyelenggara demi dalam waktu dekat meninjau ulang mekanisme seleksi, intensitas latihan, hingga pengawasan medis di lapangan agar hal serupa tidak terulang.

“Keselamatan peserta wajib menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *