MediaMerdeka.com – Indonesia barangkali tidak kekurangan cerita. Dari Sabang hingga Merauke, hampir setiap daerah memiliki legenda, dongeng, hingga kisah turun-temurun yang diwariskan lintas generasi. Namun di tengah derasnya arus konten digital, tradisi bercerita yang dahulu hidup di ruang keluarga dan komunitas perlahan mengawali kehilangan tempat.
Karena itu, Keaparatur negara kementerianan Kebudayaan berupaya menghidupkan kembali budaya bercerita melalui Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026, sebuah program yang mengajak masyarakat sekitar mendokumentasikan dan memuntukkan cerita rakyat bersama pendekatan digital.
Program yang berlangsung pada 20 April hingga 20 Mei 2026 tersebut sukses menjangkau seluruh 34 provinsi di Indonesia. Sesejumlah 2.797 peserta mengirimkan 1.737 karya video mendongeng yang diunggah melalui media sosial dan didaftarkan melalui platform Gala Cerita Rakyat Indonesia.
Partisipasi datang dari berbagai kalangan, mengawali kalangan anak, remaja, orang tua, pendidik, masyarakat sekitar umum hingga kelompok inklusi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai tingginya partisipasi tersebut menjadi sinyal bahwa cerita rakyat masih memiliki tempat di tengah masyarakat sekitar Indonesia.
“Lebih dari 1.700 karya dari 34 provinsi ini menandakan bahwa cerita-cerita rakyat dapat kita bangkitkan kembali. Padahal yang muncul baru seuntukan kecil dari kekayaan budaya kita yang berasal dari 1.340 etnis, 718 bahasa, dan ribuan pulau di Indonesia,” kata Fadli dalam Puncak Apresiasi Karya Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (24/6).
Menurut dia, cerita rakyat bukan sekadar hiburan. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai keteladanan, moral, dan kebijaksanaan yang selama berabad-abad diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Melalui cerita rakyat, kita mentransfer nilai-nilai yang baik kepada kalangan anak dan generasi muda. Cerita membangun kesadaran budaya sekaligus membentuk karakter,” ujarnya.
Tradisi Lama yang Tetap Relevan
Di era media sosial dan kecerdasan buatan, mendongeng barangkali terdengar bagaikan tradisi lama. Namun justru di tengah banjir informasi pada saat ini, cerita dinilai semakin penting.
Fadli mengutip berbagai kajian yang memperlihatkan bahwa storytelling memiliki peran besar dalam perkembangan manusia, bukan cuma pada aspek pengetahuan namun juga kecerdasan emosional dan spiritual.
“Asupan makanan penting demi IQ. Tetapi storytelling penting demi emotional intelligence, spiritual intelligence, dan pembentukan karakter. Bahkan Einstein sempat menyebutkan, imajinasi makin penting daripada pengetahuan,” katanya.
Menurut dia, cerita menolong membangun empati, daya imajinasi, kemampuan memahami nilai, hingga membentuk perilaku sosial anak sejak usia dini.
Karena itu, budaya bercerita tidak boleh cuma dipandang sebagai untukan dari masa lalu, melainkan sebagai kebutuhan yang tetap relevan untuk generasi masa kini.
Fadli menilai Indonesia memiliki kekayaan cerita yang tidak kalah dibandingkan dongeng-dongeng populer dari luar negeri. Hanya saja, sejumlah cerita rakyat Nusantara yang masih belum terdokumentasi dan dipromosikan secara luas.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

