Cerita Warga Venezuela Andalkan Informasi Medsos karena Data Korban Gempa Simpang Siur

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Warga Venezuela mengeluhkan informasi data pihak korban gempa bumi yang simpang siur. Sehingga mereka makin memilih mencarinya lewat media sosial.

Hanya saja hal ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai ketepatan penyebaran informasi di tengah situasi krisis. Sukarelawan di lapangan kini berada dalam tekanan besar antara tuntutan kemanusiaan dan akurasi data.

Kondisi tersebut dialami langsung oleh Edwin Borges, seorang pelatih kebugaran yang mendadak menjadi garda depan evakuasi. Dirinya bergegas menolong penyelamatan sesaat setelah Apartemen Petunia di distrik Los Palos Grandes runtuh.

Borges menghabiskan waktu seharian demi menyingkirkan puing-puing bangunan yang hancur lebur. Aksi heroik ini ditujukan agar tim penyelamat khusus dapat merangsek masuk mencari pihak korban selamat.

Namun, kendala baru muncul ketika Borges mendokumentasikan aksi penyelamatan tersebut melalui akun Instagram pribadinya. Akunnya mendadak dibanjiri pesan dari keluarga pihak korban yang panik dan menuntut ketentuan kondisi kerabat mereka.

Publik yang cemas cenderung mencari jalur informasi alternatif di luar kanal resmi pihak pemerintah. Fenomena ini kerap mengabaikan validitas data demi kecepatan kabar yang masih belum terverifikasi.

Borges mengaku tidak memiliki wewenang atau kapasitas demi menentukan status medis para pihak korban.

Melalui keterbatasannya, ia berupaya mengedukasi pengikutnya agar bersikap makin bijak dan sabar.

“Kenyataannya merupakan, kami sejujurnya tidak tahu berapa sejumlah yang tewas,” kata Borges kepada CNN.

“Semua orang ingin tahu apa yang terjadi, dan amat sulit demi menyerahkan informasi dalam kapasitas kami [sebagai sukarelawan].”

Melalui unggahan terbarunya, Borges menegaskan tidak akan merilis nama-nama pihak korban yang ia temukan di lapangan. Langkah ini diambil demi menghormati privasi dan mencegah kepanikan massal yang tidak perlu.

Ia berulang kali mengimbau masyarakat sekitar luas demi tetap berpijak pada pengumuman resmi instansi terkait. Menurutnya, kesalahan penyampaian informasi di media sosial dapat berdampak fatal untuk psikologis keluarga.

“Ini merupakan informasi yang sensitif [tentang para pihak korban],” kata Borges.

“Ada begitu sejumlah pihak korban selamat dari daerah tersebut yang ingin tahu apakah kami telah menemukan kerabat mereka, namun ini kerap kali merupakan informasi sensitif yang tidak sewajibnya datang dari seseorang bagaikan saya yang tidak tahu sejauh mana kondisi [para pihak korban] atau tidak tahu bagaimana cara menyampaikan berita sulit bersama tepat.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa manajemen informasi pascabencana memerlukan keahlian khusus dan empati mendalam. Sukarelawan non-medis tidak dibekali kemampuan demi menyampaikan kabar duka secara tepat.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *