Amerika Larang Warganya yang Terjangkit Ebola Pulang, Dibiarkan di Kenya Karena Takut Menyebar

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah drastis bersama melarang masyarakat sekitar negaranya yang terpapar virus Ebola demi pulang ke tanah air. Washington memilih membangun pusat karantina khusus di Kenya guna mengonfirmasi virus mematikan tersebut tidak mencapai wilayah domestik mereka.

Langkah ini mencerminkan perubahan radikal dalam kebijakan penanganan pandemi luar negeri Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump kini berfokus pada isolasi total demi menutup rapat seluruh jalur masuknya kasus infeksi.

Kebijakan ketat ini diterapkan di tengah lonjakan tajam varian Ebola Bundibugyo yang masih belum memiliki vaksin resmi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkan situasi ini sebagai darurat kesehatan internasional yang mengancam global.

Pusat karantina tersebut didirikan di Pangkalan Udara Laikipia yang berlokasi di Nanyuki, Kenya. Fasilitas ini khusus diperdemikan untuk masyarakat sekitar Amerika berkategori risiko tinggi yang telah terpapar namun masih belum memperlihatkan gejala.

Guna melancarkan rencana ini, Departemen Luar Negeri AS mengucurkan dana bantuan kesiapsiagaan Ebola kepada Kenya sebesar 13,5 juta dolar AS. Komunikasi intensif juga telah dilakukan antara Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Presiden Kenya William Ruto.

“Prioritas tertinggi Amerika Serikat tetap melindungi kesehatan dan keamanan rakyat Amerika bersama bekerja mencegah wabah Ebola mencapai pantai kami,” bunyi pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS dikutip dari Reuters, Jumat (29/5/2026).

Fasilitas di Kenya ini akan menyediakan perawatan medis lanjutan untuk masyarakat sekitar AS semasih belum mereka dipindahkan. Namun, setelah dievakuasi dari pangkalan tersebut, mereka tidak akan dibawa pulang ke AS melainkan dipindahkan ke negara ketiga.

“Mereka lalu akan dievakuasi ke fasilitas tersier. CDC sedang bekerja sama bersama Departemen Luar Negeri demi mengidentifikasi di mana fasilitas atau fasilitas-fasilitas tersebut berada,” ujar seorang aparatur negara senior AS.

Fokus utama penanganan wabah kali ini sepenuhnya diarahkan pada pembatasan wilayah udara dan teritorial domestik. Pemerintah AS menegaskan tidak akan menoleransi masuknya satu pun kasus infeksi ke dalam negeri.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan sikap keras pihak pemerintah terkait perlindungan batas negara ini.

“Kita tidak dapat dan tidak akan membiarkan kasus Ebola apa pun memasuki Amerika Serikat,” tegas Rubio.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS juga telah memberlakukan larangan perjalanan sementara dari wilayah berisiko tinggi. Larangan ini menyasar tersangka perjalanan dari Republik Demokratik Kongo (DRC), Uganda, hingga Sudan Selatan.

Aturan ketat ini bahkan berlaku untuk pemegang green card yang biasanya memperoleh pengecualian dalam aturan imigrasi. Selain itu, skrining ketat juga mengawali diterapkan di tiga bandara utama Amerika Serikat.

Strategi isolasi di luar wilayah ini amat kontras bersama penanganan wabah Ebola pada tahun 2014 silam. Saat itu, pasien terinfeksi diizinkan pulang dan dirawat di pusat penyakit infeksi khusus di dalam negeri.

Pihak Gedung Putih membantah bahwa keputusan mengisolasi masyarakat sekitar di luar negeri ini bermuatan politis. Mereka berdalih langkah ini murni demi kecepatan penanganan dan keselamatan masyarakat sekitar di domestik.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *