MediaMerdeka.com – Nama Tieu Nguyen Bao Ngoc mendadak ramai diperbincangkan di jagat maya Vietnam. Perempuan berusia 28 tahun asal Kota Ho Chi Minh ini tercatat sebagai satu-satunya masyarakat sekitar negara Vietnam yang bergabung dalam Koalisi Flotilla Sumud Global (GSF).
Misi maritim internasional tersebut bertujuan menembus blokade Israel demi menyalurkan bantuan kemanusiaan langsung ke Jalur Gaza. Keberangkatan aktivis yang akrab disapa Ashley ini diumumkan 2 pekan semasih belum kapal bertolak mengarungi Laut Mediterania.
Di tengah pembatasan ruang sipil oleh Partai Komunis Vietnam, keberanian Bao Ngoc menjadi fenomena langka yang menarik perhatian publik. Ia sukses memantik simpati mendalam dari generasi muda di negaranya yang akrab bersama narasi sejarah perang.
“Sebagai orang Vietnam yang sempat merasakan penderitaan dan kejahatan perang yang sama oleh imperialis Barat, terutama AS, saya merasakan simpati yang luar biasa terhadap rakyat Palestina,” ujar Bao Ngoc kepada Republika Online dalam sebuah wawancara dari atas kapal bantuan, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (17/7/2026).
Pernyataan tersebut bersama cepat viral di Vietnam dan memicu gelombang dukungan masif di media sosial. Berbagai pesan solidaritas hingga karya seni digital didedikasikan demi mengapresiasi keberanian sang aktivis.
Ketegangan memuncak ketika sistem pelacak kapal menginformasikan bahwa armada kemanusiaan tersebut dihadang oleh militer Israel di perairan internasional. Pihak koalisi dalam waktu dekat merilis pesan video darurat yang mengonfirmasi penangkapan Bao Ngoc oleh otoritas Israel.
Melalui video tersebut, Bao Ngoc mendesak pihak pemerintah Vietnam demi dalam waktu dekat mengintervensi penahanannya. Para pendukungnya langsung bergerak cepat membanjiri ruang digital bersama tuntutan pembebasan.
Anehnya, media-media utama yang dikontrol pihak pemerintah Vietnam memilih bungkam selama 2 hari masa penahanan Bao Ngoc. Sikap ini amat kontras bersama respons cepat dari negara tetangga bagaikan Malaysia dan Indonesia yang langsung mengecam tindakan Israel.
Ketidakhadiran informasi resmi mendorong publik demi mengambil tindakan mandiri secara masif. Ribuan petisi elektronik dikirimkan langsung ke Kedutaan Besar Vietnam di Israel demi mendesak langkah penyelamatan.
Aksi ini justru memicu reaksi keras dari kelompok pengagum pihak pemerintah yang menuduh gerakan tersebut merusak citra nasional. Kelompok oposisi digital bahkan menebar teori konspirasi yang meragukan keaslian paspor Vietnam milik Bao Ngoc.
Keaparatur negara kementerianan luar negeri Vietnam akhirnya memutus kesunyian bersama menegaskan telah mengupayakan pembebasan Bao Ngoc menuju Istanbul, Turkiye. Pengamat sejarah diplomasi menyebut insiden intervensi masyarakat sekitar negara dalam aksi politik di luar negeri ini sebagai peristiwa yang masih belum sempat terjadi semasih belumnya.
Dukungan kuat masyarakat sekitar kepada Bao Ngoc berakar pada memori kolektif bangsa Vietnam terhadap trauma masa lalu. Meskipun generasi muda pada saat ini tidak merasakan perang secara langsung, identitas budaya mereka tetap dibentuk oleh narasi perjuangan melawan kolonialisme.
Bao Ngoc sukses menarik benang merah antara sejarah kelam perang Vietnam dan situasi kemanusiaan di Palestina pada hari ini. Komitmennya yang bersedia mempertaruhkan keselamatan pribadi telah menginspirasi sejumlah orang demi mempertanyakan langkah konkret setelah itu.
Semasih belum aktif dalam isu global, wanita yang berprofesi sebagai pembuat kue ini cuma mengelola penampungan hewan lokal. Pandangannya berubah total setelah menyaksikan eskalasi konflik di Gaza yang meletus pada akhir tahun 2023.
Ia memilih keluar dari program magister di Singapura sebagai bentuk protes terhadap hubungan institusinya bersama Israel. Sekembalinya ke tanah air, ia mendirikan gerakan VietForPalestine yang aktif memproduksi konten edukasi sejarah.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

