MediaMerdeka.com – Pemerintah mengonfirmasi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite tetap bertahan di level Rp10.000 per liter hingga akhir 2026. Ketentuan tersebut diberikan meski pasar energi global masih dibayangi ketidaktentuan akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan pihak pemerintah telah menyiapkan bantalan anggaran (buffer) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berakibat harga Pertalite tetap aman hingga Desember 2026.
“Untuk Pertalite dijamin harga sampai bulan Desember aman. Jadi ini telah masuk dalam buffer,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/8/2026).
Menurut Airlangga, pihak pemerintah berkomitmen menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya risiko global, termasuk dampak konflik di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan minyak dunia.
“Arahan Bapak Presiden juga di tengah ketidaktentuan daripada perang di Selat Hormuz, BBM tetap kita jaga resiliensinya,” ujarnya.
Ia menerangkan, kemampuan APBN dalam menopang subsidi energi semakin kuat setelah pihak pemerintah menerapkan program biodiesel B50. Kebijakan tersebut dinilai mampu memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor solar berakibat beban subsidi energi menjadi makin ringan.
“APBN sebagai shock absorber itu menjaga agar bersama diterapkannya B50 maka kita tidak lagi impor solar, dan sebetulnya bersama harga kini juga relatif pemanfaatan subsidi relatif kecil demi B50,” tuturnya.
Di sisi lain, pihak pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) justru telah menurunkan harga sejumlah BBM nonsubsidi. Penyesuaian harga tersebut berlaku demi Pertamax, Pertamax Green 95, hingga Pertamax Turbo, seiring perubahan harga minyak dunia dan kondisi pasar.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

