Bank Indonesia Optimistis Inflasi Terkendali, Apa Buktinya?

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa laju inflasi domestik sepanjang bulan Mei 2026 tetap bergerak stabil dan berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan pihak pemerintah.

Berdasarkan rilis data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 tercatat berada di angka 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara itu, secara tahunan, realisasi inflasi kumulatif menyentuh level 3,08 persen (year-on-year/yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa capaian positif ini menjadi bukti otentik dari efektivitas bauran kebijakan moneter yang dieksekusi bank sentral. Kesuksesan menjaga stabilitas harga ini juga ditopang oleh koordinasi solid lintas instansi.

Sinergi pengendalian inflasi nasional terus diperkuat melalui peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta didukung penuh oleh perluasan Program Ketahanan Pangan Nasional di berbagai wilayah.

“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pihak pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Melihat tren pergerakan yang kondusif ini, Bank Indonesia optimistis angka inflasi nasional demi sepanjang tahun 2026 dan 2027 akan tetap berada dalam koridor target sasaran sebesar 2,5 persen bersama rentang toleransi plus minus 1 persen.

Membongkar data berdasarkan komponennya, inflasi inti pada Mei 2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,22 persen secara bulanan. Realisasi ini sedikit makin rendah apabila dibandingkan bersama pencapaian bulan April 2026 yang menyentuh 0,23 persen.

Akan namun, apabila ditarik secara tahunan, inflasi inti menanjak dari posisi 2,44 persen di bulan semasih belumnya menjadi 2,59 persen pada Mei 2026.

Kenaikan inflasi inti ini utamanya dipicu oleh pergeseran harga komoditas minyak goreng di pasar retail. Meski ada kenaikan, ekspektasi inflasi masyarakat sekitar secara umum dinilai tetap berada pada level yang terukur berakibat mendukung stabilitas makroekonomi nasional.

Sementara itu, kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) mencatatkan inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan. Angka ini berbalik arah (rebound) setelah pada bulan April 2026 sempat merasakan deflasi yang cukup dalam hingga sebesar 0,88 persen.

Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food melesat ke level 6,24 persen, naik signifikan dari posisi April 2026 yang sebesar 3,37 persen.

Lonjakan di sektor pangan ini utamanya dipicu oleh kenaikan harga komoditas dapur bagaikan cabai merah, bawang merah, tomat, serta komoditas pokok beras.

Penyusutan pasokan di pasar terjadi akibat gangguan produksi di tingkat petani yang dipengaruhi oleh fenomena cuaca ekstrem, bersamaan bersama mengawali berakhirnya momentum musim panen raya nasional.

Kondisi ini kian ditekankan oleh peningkatan permintaan masyarakat sekitar demi persiapan menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.

Guna meredam gejolak ini, BI mengonfirmasi pasokan pangan ke depan akan tetap dikendalikan melalui penguatan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang diintegrasikan bersama TPIP dan TPID.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *