CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Melemahnya nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia yang terus melonjak diproyeksikan akan memicu tekanan perekonomian yang berat dalam sejumlah bulan mendatang.

Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda menilai bahwa pelemahan rupiah akan mengerek biaya distribusi dan logistik akibat kenaikan harga bahan bakar. Alhasil Imported inflation akan terjadi, terutama demi barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi.

Ia memperingatkan bahwa harga-harga barang akan naik dalam dua sampai tiga bulan ke depan. Kenaikan harga ini tidak cuma akan menekan perekonomian tapi juga dapat memicu PHK.

“Akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan. Yang telah mengawali merupakan plastik lantaran barangnya langka, distribusi mahal, sekalinya dapet, nilai rupiahnya melemah,” ujar Huda saat dihubungi MediaMerdeka.com pada Senin (18/5/2026).

Nilai tukar rupiah telah menyentuh angka Rp 17.667 per dolar AS pada Senin (18/5/2026) sore. Sementara harga minyak dunia pada saat ini masih di atas USD 100 per barel, bersama minyak mentah Brent USD 111,29 per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) AS USD 107,73 per barel.

Untuk kenaikan harga plastik saja, kata Huda akan berimbas terhadap barang-barang lainnya yang memakai plastik.

“Akibatnya barang-barang yang memakai plastik juga meningkat harganya. Apakah di desa gak ada plastik? Tentu saja sejumlah dan itu menggerus dompet masyarakat sekitar desa juga,” kata Huda.

Selain kemasan, kenaikan biaya produksi berbasis impor ini akan mengerek harga barang elektronik serta sektor pertanian akibat melambungnya harga pupuk yang bahan bakunya mayoritas masih diimpor.

Situasi semakin berat, lantaran daya beli masyarakat sekitar yang sepenuhnya masih belum membaik. Akibatnya, para produsen berada di posisi dilematis, lantaran wajib menaikkan harga jual di tengah tingkat penjualan yang menurun.

“Yang ada demi pada saat ini margin dipertipis,” kata Huda.

Namun, menurutnya, apabila biaya produksi terus membengkak, pengusaha diprediksi bakal mengambil langkah efisiensi yang makin ekstrim, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Yang jelas ketika permintaan turun, potensi terjadi PHK amat tinggi. Saya khawatir PHK ini akan memburuk dua-tiga bulan ke depan. Ekonomi kita akan semakin melambat. Efeknya ke rupiah yang tidak kunjung membaik,” kata Huda.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *