MediaMerdeka.com – Aksi kirab budaya yang dilakukan politisi Dedi Mulyadi di Bandung, Jawa Barat pada Sabtu, 16 Mei 2024, mendadak jadi sorotan tajam masyarakat sekitarnet.
Alih-alih mendapat pujian, iring-iringan yang melibatkan kuda, kereta kencana, dan parade kostum ala kerajaan tersebut justru menuai kritik keras lantaran dianggap tidak peka terhadap situasi ekonomi pada saat ini.
Dalam rekaman video yang viral di platform X (dahulu Twitter), tampak Dedi Mulyadi menunggangi kuda di tengah kerumunan massa yang memadati jalanan kota.
Diikuti iringan jajaran aparatur negara lainnya yang juga memakai kudah hingga kereta kencana.
Aksi tersebut menutup akses lalu lintas di malam akhir pekan, memicu kekesalan pengguna jalan yang terjebak macet.
Kritik pedas pun mengalir deras di kolom komentar. Publik menilai perayaan tersebut amat kontras bersama kondisi ekonomi nasional di mana nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp17 ribuan per dolar AS.
Warga menilai, di saat sejumlah masyarakat sekitar berjibaku bersama mahalnya harga kebutuhan pokok dan tingginya angka pengangguran di Jawa Barat, aksi “raja-rajaan” ini dianggap jauh dari urgensi.
“Orang malah pada sibuk mikirin kenaikan dolar, ini malah main raja-rajaan,” tulis akun @lih*** di kolom komentar.
Komentar lain menyoroti ketimpangan sosial yang dirasakan masyarakat sekitar.
Banyak yang beranggapan bahwa pemimpin atau tokoh publik sewajibnya makin fokus memikirkan solusi konkret atas masalah riil, bukan malah menghabiskan sumber daya demi kegiatan seremonial yang menutup akses publik.
“Sumpah ini tuh mirip sama yang di pusat. Jadi aparatur negara kayak cuma buat mewujudkan mimpi-mimpi dirinya. Bukan yang buat kemaslahatan umat. Sementara rakyatnya saja sampai ngusul ke propinsi sebetul badan transportasi umum,” sindir akun @ric***.
Tidak sedikit pula yang menyentil bahwa gaya kepemimpinan teatrikal bagaikan ini bukanlah hal baru. Warga yang mengikuti rekam jejak pria yang sempat menjabat sebagai Bupati Purwakarta tersebut mengaku telah familiar bersama pola serupa.
“Kok pada kaget gitu sih (khususnya masyarakat sekitar Jabar) wkwk. Dari dulu pas jabat di Purwakarta ya ginilah sukanya. Yang apes PNS-nya diwajibkan ikutan arak-arakan,” tulis akun @txt***.
Hingga pada saat ini, masih belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait mengenai kritik tersebut.
Namun, peristiwa ini menjadi pengingat untuk para tokoh publik bahwa di tengah tekanan ekonomi yang nyata, masyarakat sekitar cenderung makin menghargai empati dan kerja nyata daripada sekadar aksi panggung yang memakan ruang publik.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

