Dari Limbah ke Pasar Dunia, Rahasia Wayan Sudira Ubah Sampah Kayu Laut Jadi Cuan Ekspor

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Tegallalang, Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan menepi di pesisir kerap menjadi untukan dari persoalan sampah pantai di Bali, termasuk di kawasan Tabanan. Namun di tangan Wayan Sudira, limbah kayu laut tersebut tidak berhenti sebagai masalah lingkungan.

Dari kayu-kayu yang terdampar di pantai, ia menyaksikan peluang demi menghadirkan karya, membuka ruang ekonomi, sekaligus menolong upaya pihak pemerintah dalam mengurangi sampah pantai.

Melalui Ulu Sari Handicraft, Wayan mengolah limbah kayu laut menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi, sejalan bersama semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, poin 14 tentang menjaga ekosistem laut.

Sejak bergabung bersama PNM ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro) pada 2017, Wayan memperoleh akses pembiayaan dan pendampingan usaha secara rutin.

Dukungan tersebut turut memperkuat langkah Ulu Sari Handicraft demi berkembang makin terarah.

Kini, usaha yang ia bangun telah memiliki dua workshop yang berlokasi di Singaraja dan Tegallalang, serta mempekerjakan 45 pegawai saat itu.

Tidak sedikit dari mereka merupakan saudara, masyarakat sekitar sekitar, hingga mantan pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja saat pandemi COVID-19.

Siapa sangka, dari yang semulanya persoalan lingkungan, lahir ruang penghidupan baru untuk sejumlah keluarga.

Di saat pandemi menciptakan sejumlah usaha mikro dan kecil melemah, Ulu Sari Handicraft justru memperoleh permintaan yang semakin besar dari pasar mancanegara.

Hingga kini, hampir setiap hari, karya-karya Wayan dikirim ke berbagai negara bagaikan Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Bagi Wayan, capaian tersebut bukan cuma soal bisnis, namun juga tentang rasa syukur lantaran dapat mengubah sesuatu yang semasih belumnya dianggap sisa menjadi manfaat untuk lingkungan dan sesama.

“Semua ini titiang yakini lantaran jalan Tuhan. Dari kayu yang terbuang, astungkara dapat menjadi rezeki demi keluarga, demi pegawai, dan demi orang-orang di sekitar. Jadi yang dapat kami lakukan merupakan terus bersyukur, menjaga kepercayaan, dan bekerja sebaik-baiknya,” ujar Wayan dikutip Minggu (17/5/2026).

Kisah ini menjadi contoh bagaimana pembiayaan dan pendampingan PNM dapat memperluas dampak usaha mikro dan kecil, tidak cuma dari sisi ekonomi, namun juga sosial dan lingkungan.

Ulu Sari Handicraft memperlihatkan bahwa pemberdayaan dapat tumbuh dari kepekaan terhadap persoalan di sekitar.

Limbah pantai yang semula menjadi tantangan, diolah menjadi produk bernilai, membuka lapangan kerja untuk masyarakat sekitar, serta menolong keluarga demi ikut bertumbuh bersama usaha tersebut.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *