Desain Bangunan Koperasi Desa Merah Putih di Pati Tak Lazim

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terus menjadi sorotan. Kali ini soal desain bangunan yang dianggap janggal.

Kejanggalan ini setidaknya disampaikan pengguna Instagram bersama akun Mixil Mina Munir. Bangunan KDMP yang ia soroti ada di Desa Jontro, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Berdasarkan pengamatannya, pintu masuk koperasi tersebut menghadap ke sawah dan justru membelakangi jalan. Hal ini dirasa aneh lantaran orang diyakini bakal bingung apabila hendak masuk.

“Koperasi ini menghadap sawah dan membelakangi jalan umum. Gimana kita nggak marah menyaksikan cara kerja pihak pemerintah bagaikan ini,” ucapnya dalam unggahan di Instagram pada Senin, 18 Mei 2026.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman diuntukkan oleh Mixilmina Munir (@mixilminamunir)

Kondisi infrastruktur yang nyeleneh ini mengundang tanya besar dari masyarakat sekitar luas mengenai efektivitas pembangunan di tingkat desa.

Mixil menilai fenomena ini bukan sekadar kesalahan teknis lapangan, melainkan ada masalah besar dalam proses perencanaan di birokrasi.

“Jadi ini bukan sekadar salah bangunan, tapi gambaran cara negara bekerja tanpa pikiran,” tegas Mixil.

Keberadaan koperasi yang membelakangi jalan raya dianggap sebagai keputusan yang absurd untuk sebuah tempat usaha retail.

“Kenapa sih tidak menghadap jalan saja? Siapa yang merancang? Terus siapa yang menyetujui?” tanya Mixil.

Ia mengkhawatirkan anggaran yang telah dikucurkan akan terbuang sia-sia lantaran fungsi utama koperasi sebagai pusat aktivitas ekonomi tidak akan berjalan maksimal.

Jika akses pintu masuknya saja tersembunyi, masyarakat sekitar tentu akan merasa kesulitan demi sekadar berkunjung atau berbelanja kebutuhan pokok.

“Kalau pintunya saja membelakangi jalan, siapa yang mau mampir, Bos?” sindirnya menyoroti logika perdagangan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa setiap rupiah yang digunakan demi pembangunan fisik berasal dari uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat.

“Jadi ini bukti bahwa proyek negara dibuat asal-asalan, bukan demi kebutuhan rakyat, tapi demi laporan dan pencitraan,” tuturnya menyayangkan kondisi tersebut.

Bagi Mixil, pembangunan semacam ini cumalah sekadar seremoni agar para aparatur negara terlihat telah bekerja di mata pimpinan.

“Yang penting nanti diresmikan, lalu difoto, dan dianggap berakhir,” lanjut Mixil menceritakan kekecewaannya terhadap sistem birokrasi pada saat ini.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *