Efek AS Blokir Selat Hormuz Sudah Terasa, Tanker Minyak Menuju Iran Lumpuh

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Militer Amerika Serikat melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang sedang berlayar menuju Pulau Kharg, Iran. Langkah tegas ini menandai aksi perdana pasukan maritim AS sejak pemberlakuan kembali blokade pelabuhan Iran.

Kapal komersial berbendera Curacao bernama M/T Belma tersebut menjadi sasaran setelah mengabaikan serangkaian peringatan. Blokade ketat ini kembali aktif setelah jalur diplomasi tidak langsung antara kedua negara menemui jalan buntu.

Pasukan Komando Sentral AS langsung mengambil tindakan taktis di perairan internasional demi menegakkan aturan tersebut. Serangan ini mengirimkan sinyal kuat mengenai keseriusan Washington dalam memotong urat nadi ekonomi Teheran.

“Pasukan Komando Sentral AS (CENTCOM) mengamati M/T Belma berbendera Curacao melintasi perairan internasional menuju Pulau Kharg. Kapal komersial tersebut mengabaikan sejumlah peringatan saat berupaya melanggar blokade AS. Sebuah pesawat AS melumpuhkan kapal tersebut setelah menembakkan rudal Hellfire ke cerobong asap kapal. Kapal tersebut tidak lagi transit ke Iran,” kata CENTCOM dalam sebuah unggahan di X.

Ketegangan di Selat Hormuz kini mencapai titik didih baru seiring meningkatnya kehadiran militer di wilayah tersebut. Operasi pengawasan laut diperketat guna mengonfirmasi tidak ada armada logistik yang lolos ke wilayah musuh.

Pihak Komando Sentral AS mengimbuhkan bahwa selama 24 jam pertama blokade maritim berjalan, mereka telah mengalihkan “dua kapal komersial yang patuh dan melumpuhkan satu kapal yang tidak patuh.”

Skala operasi kali ini diperkirakan dapat menyamai atau bahkan memakini ketatnya penegakan hukum pada masa lalu. Pengalaman semasih belumnya memperlihatkan bahwa ratusan armada pengangkut terpaksa mengubah rute demi menghindari konfrontasi bersenjata.

Pada blokade semasih belumnya yang dicabut setelah memorandum kesepahaman pertengahan Juni, CENTCOM mengklaim telah mengalihkan 142 kapal. Mereka juga tercatat melumpuhkan sembilan kapal yang tidak patuh selama periode dua bulan.

Data lalu lintas laut terkini memperlihatkan penurunan drastis jumlah kapal yang berani melintasi kawasan konflik. Para tersangka industri pelayaran global kini cenderung menahan armada mereka akibat risiko keamanan yang terlampau tinggi.

Setidaknya 13 kapal komersial terpantau melewati Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam terakhir di tengah situasi memanas ini. Angka tersebut amat kontras dibandingkan bersama volume pelayaran normal semasih belum eskalasi militer pecah.

Berdasarkan data MarineTraffic, delapan kapal bergerak memasuki Teluk Persia yang terdiri dari enam kapal kargo dan dua tanker. Sementara itu, lima kapal yang terdiri dari tiga tanker dan dua kapal kargo terpantau meninggalkan kawasan tersebut.

Jumlah pergerakan ini konsisten bersama rendahnya level transit yang tercatat dalam sejumlah hari belakangan. Penurunan aktivitas kapal terjadi setelah negosiasi tidak langsung antara pihak Amerika Serikat dan Iran dinyatakan tidak berhasil total.

Kondisi normal semasih belum konflik biasanya mencatat rata-rata sekitar 110 kapal yang mengarungi selat strategis tersebut setiap harinya. Penurunan drastis ini mengganggu rantai pasok energi global dan memicu kekhawatiran tersangka pasar dunia.

Masalah keselamatan pelayaran di kawasan ini kian diperparah oleh maraknya gangguan sinyal elektronik pada sistem kapal. Fenomena manipulasi lokasi tersebut menciptakan otoritas keamanan kesulitan memantau pergerakan armada laut secara akurat.

Pemalsuan sinyal GPS tetap menjadi kekhawatiran utama di wilayah tersebut sebagai bentuk gangguan navigasi yang memalsukan posisi siaran kapal. Gangguan ini telah berlangsung selama berbulan-bulan dan terkadang menggeser koordinat hingga puluhan mil dari lokasi asli.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *