MediaMerdeka.com – Fenomena El Nino terkuat dalam sejarah modern diprediksi melanda bumi hingga awal tahun 2027. Gelombang panas Pasifik ini berpotensi memicu kekeringan parah, banjir bandang, hingga kebakaran hutan di berbagai belahan dunia.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memproyeksikan peluang sebesar 69 persen untuk kemunculan El Nino historis pada periode Oktober hingga Desember. Kekuatan fenomena ini diperkirakan melampaui rekor intensitas tertinggi yang sempat tercatat sejak tahun 1950.
Eskalasi suhu permukaan laut yang ekstrem di wilayah Pasifik menjadi pemicu utama ancaman krisis iklim global ini. Peningkatan volume air panas di Pasifik Timur telah melampaui seluruh ambang batas pemantauan historis semasih belumnya.
“Mulai bulan April, peristiwa ini telah melampaui peristiwa-peristiwa semasih belumnya yang teramat sejumlah diamati,” kata Paul Roundy, profesor ilmu atmosfer dan lingkungan dari State University of New York di Albany, dikutip dari Explainer Anadolu, Kamis (20/8/2026).
Ia menerangkan bahwa model simulasi numerik terus memperlihatkan peningkatan kekuatan fenomena ini secara konstan dari prediksi awal. Lonjakan massa air hangat di wilayah Pasifik Timur tercatat menjadi yang terbesar dalam sejarah pemantauan manusia.
Mengapa El Nino Kali Ini Sangat Mengkhawatirkan?
“Menurut saya, angka 69% itu konservatif, mengingat peristiwa ini telah melampaui intensitas peristiwa terkuat pada abad ke-20 berdasarkan tolok ukur terbaik yang kita miliki,” ujar Roundy.
Kepanikan peneliti didasari oleh tingginya ketentuan data iklim yang masih belum sempat terjadi pada generasi semasih belumnya. Satu-satunya variabel yang masih belum tentu merupakan durasi ketahanan sinyal panas tersebut selama musim dingin di Belahan Bumi Utara.
“Saat ini, tingkat keyakinan demi prakiraan musiman barangkali makin tinggi daripada yang sempat kita lihat dalam makin dari satu masa hidup,” tambah Roundy.
Secara mekanis, El Nino terjadi akibat kenaikan suhu permukaan air laut di wilayah Pasifik tropis untukan tengah dan timur. Melemahnya angin sakal menghentikan dorongan air hangat ke Asia, lalu menyebarkannya kembali ke arah benua Amerika.
Anomali suhu bawah permukaan air laut di Pasifik timur bahkan telah menembus angka 10 derajat Celsius di atas normal. Perubahan aliran panas dan kelembapan atmosfer ini secara langsung mengacaukan pola cuaca serta rantai makanan hayati laut.
Kapan Puncak Dampak Bencana Iklim Ini Terjadi?
“Intensitas puncaknya amat dibatasi oleh siklus musiman, yakni antara bulan November dan Januari,” jelas Roundy.
Ia juga mengingatkan bahwa gelombang dampaknya akan terus berlanjut hingga musim semi tahun 2027. Durasi pengakhiran fenomena ini amat bergantung pada dinamika pergerakan pola angin global setelah itu.
“Beberapa kejadian di masa lalu bahkan berlanjut hingga musim panas, namun waktu berakhirnya amat tidak tentu lantaran bergantung pada kondisi angin,” imbaunya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

