Gempa Kumamoto Magnitudo 7,1 Menewaskan 13 Orang, Merubuhkan Mall Aeon Jepang

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Sesejumlah 13 masyarakat sekitar Jepang ditentukan meninggal dunia akibat guncangan gempa bermagnitudo 7,1 yang menghancurkan kawasan Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu. Angka kematian terbaru ini membuktikan tingginya tingkat kerusakan infrastruktur publik serta ancaman nyata dari reruntuhan bangunan komersial di kawasan terdampak.

Pemerintah Jepang melancarkan operasi penyelamatan berskala besar guna menyisir puluhan pengunjung yang diduga kuat masih terperangkap di dalam bangunan Mall Aeon yang ambruk. Tim SAR berpacu bersama waktu di tengah ancaman gempa susulan serta potensi bahaya dari struktur gedung yang rapuh.

Kerusakan fatal pada pusat perbelanjaan utama tersebut menjadi pusat perhatian evakuasi lantaran lantai dua gedung dilaporkan runtuh total dan menimbun area di bawahnya. Tragedi di Mall Aeon ini memperlihatkan betapa dahsyatnya dampak gempa terhadap bangunan publik modern di wilayah pesisir Kyushu.

“Per pukul 08.30 waktu setempat (06.00 WIB) jumlah pihak korban tewas mencapai 13 orang,” kata Takaichi dalam konferensi pers di Tokyo, Rabu.

Otoritas berwenang terus berkoordinasi demi mempercepat proses penanganan darurat dan pencarian pihak korban di lokasi bencana.

PM Takaichi menegaskan pihak berwenang akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan demi dalam waktu dekat mengevakuasi para pihak korban.

Tragedi mencekam sempat terjadi di Mall Aeon saat kepulan asap putih mendadak membumbung tinggi dari area gedung sesaat setelah ledakan misterius terdengar. Petugas pemadam kebakaran langsung menyambut baik banjir panggilan darurat dari masyarakat sekitar yang panik di sekitar lokasi kejadian.

Guncangan keras memicu keruntuhan parsial pada dinding luar serta atap gedung hingga memperlihatkan kerangka besi bangunan yang bolong menganga. Di tengah situasi membahayakan tersebut, sekitar 200 pengunjung berhamburan menyelamatkan diri menuju area parkir terbuka.

Satuan tugas darurat kini resmi beroperasi langsung di bawah kendali pusat penanganan krisis kantor perdana aparatur negara kementerian. Pemerintah memprioritaskan pemulihan jalur komunikasi dan alat berat demi mengangkat material beton yang menimbun para pihak korban.

Petugas gabungan juga bersiap menyikapi risiko bahaya sekunder di sepanjang garis pantai Teluk Ariake dan Teluk Yatsushiro.

Bencana alam ini bermula ketika gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,1 menguncang wilayah Pulau Kyushu di untukan barat daya Jepang pada Selasa (28/7). Tak lama berselang, guncangan susulan bermagnitudo 6,1 kembali memicu kepanikan masyarakat sekitar di Prefektur Kumamoto dan sekitarnya.

Ancaman bertambah serius ketika pihak berwenang sempat menerbitkan peringatan dini tsunami demi wilayah pesisir Teluk Ariake dan Teluk Yatsushiro. Rangkaian peristiwa gempa ini mengingatkan kembali pada kerentanan seismik tinggi yang menyelimuti kawasan selatan Kepulauan Jepang.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *