Iran Ogah Gencatan Senjata dengan Amerika Kalau yang Ngomong ‘Orang Ketiga’ Ini

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Iran secara tegas menepis tawaran gencatan senjata dari Amerika Serikat yang dibawa Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi. Sikap keras ini diambil lantaran proposal Washington sama sekali tidak menyentuh akar konflik utama, yakni penguasaan Selat Hormuz.

Penolakan tersebut menandai ketidak berhasilan diplomasi perdana dalam menghentikan pertempuran mematikan yang telah berlangsung hampir dua pekan. Tanpa jaminan atas kedaulatan jalur maritim strategis, Teheran memilih terus bersiap menyikapi skenario terburuk.

Langkah berani Iran ini memperlihatkan bahwa negosiasi tanpa penyelesaian masalah mendasar cuma dipandang sebagai manuver politik semata. Kawasan Timur Tengah kini berada di ambang perang terbuka yang jauh makin luas dan destruktif.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyodorkan draft damai tersebut secara langsung dalam lawatan resminya ke Teheran. Dikutip dari Anadolu, usulan itu merupakan hasil pertemuannya bersama Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih semasih belum ia terbang ke Iran.

Meskipun rincian klausul masih belum dibuka ke publik, aparatur negara tinggi Teheran mengonfirmasi bahwa dokumen itu merupakan satu-satunya penawaran resmi dari AS. Namun, tidak adanya poin jaminan status Selat Hormuz menciptakan usulan tersebut langsung dimentahkan.

Selama di Teheran, PM al-Zaidi menggelar serangkaian pertemuan tingkat tinggi bersama jajaran pimpinan tertinggi Iran. Ia bertatap muka langsung bersama Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menlu Abbas Araghchi.

Di balik pintu diplomasi yang tertutup rapat, para pimpinan Iran justru mematangkan konsolidasi pertahanan internal. Mereka bersiap mengantisipasi gelombang serangan militer AS yang diprediksi akan menyasar berbagai infrastruktur vital.

Ancaman balasan yang disiapkan Teheran ditentukan tidak lagi terbatas pada arena pertempuran pada saat ini. Skenario eskalasi total telah dirancang demi membalas setiap gempuran baru dari pasukan Amerika Serikat.

Dua aparatur negara Iran menegaskan kepada The New York Times, bagaikan dikutip Anadolu, bahwa serangan semacam itu akan mendorong Iran memperluas perang ke tingkat regional, termasuk bersama menargetkan Tel Aviv.

Tak cuma serangan rudal, taktik penutupan jalur logistik global juga siap dieksekusi oleh sekutu regional Teheran. Kelompok Houthi di Yaman bakal diperintahkan demi memblokir total akses pelayaran di Selat Bab al-Mandab.

Sementara jalur diplomasi menemui jalan buntu, dentuman meriam dan gempuran udara terus mengguncang kawasan. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi gempuran intensif ke wilayah Iran telah memasuki malam ke-13 secara berturut-turut.

Otoritas keamanan Teheran mencatat sedikitnya 53 orang tewas dan 592 masyarakat sekitar lainnya luka-luka akibat bombardir AS. Angka pihak korban jiwa diprediksi masih terus merambat naik seiring berlanjutnya operasi militer malam hari.

Ketegangan ekstrem ini dipicu keputusan sepihak Donald Trump pada 8 Juli lalu yang membatalkan kesepakatan MoU Islamabad. Pembatalan klausul gencatan senjata tersebut langsung menyulut aksi saling serang secara terbuka di berbagai titik.

AS membombardir sejumlah target darat di wilayah kedaulatan Iran tanpa henti. Sebaliknya, Teheran mengklaim sukses merusak berbagai fasilitas serta aset militer milik AS yang tersebar di sejumlah negara tetangga.

Saling serang ini melumpuhkan lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz dan mengancam pasokan energi dunia. Wilayah udara kawasan berulang kali ditutup total, disertai meningkatnya ancaman serangan terhadap aset AS di luar Timur Tengah.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *