MediaMerdeka.com – Ribuan Gen Z yang tergabung dalam gerakan Cockroach Janta Party atau Partai Rakyat Kecoa melancarkan aksi jalan kaki menuju gedung Parlemen India demi menuntut pemunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan. Langkah nekat massa mendesak reformasi sistem pendidikan dan penyediaan lapangan kerja ini langsung diadang tindakan keras aparat kepihak kepolisianan.
Penghentian akses internet seluler hingga pemblokiran stasiun kereta dilakukan otoritas New Delhi demi meredam pergerakan massa. Situasi kian memanas ketika pihak kepolisian anti-huru-hara mengawali menerjang barisan demonstran memakai tembakan gas air mata serta pukulan tongkat kayu.
Bentrokan fisik tak terhindarkan saat barisan pemuda membalas tindakan represif aparat bersama pelemparan batu ke arah barisan pengaman. Insiden meluas ini menandai titik balik perlawanan generasi muda terhadap rezim pihak pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.
“Saya menyaksikan tiga hingga empat personel menendang seorang wanita di perutnya. Dia tidak dapat berdiri dari jalan setelah itu,” ujar Mohammed Nasir, seorang lulusan SMA yang menyaksikan kekerasan aparat, dikutip dari NPR, Selasa (21/7/2026).
“Setiap kali Modi takut, dia mengirim pihak kepolisian keluar. Mari kita uji batas penindasan Anda. Mari kita cari tahu berapa sejumlah ruang yang Anda miliki di penjara Anda,” seru kelompok massa di balik barikade besi.
Gerakan ini berawal dari sindiran pedas Hakim Agung India Surya Kant yang menyamakan pemuda pengangguran bersama kecoa. Pernyataan kontroversial tersebut justru memicu lahirnya gerakan satir media sosial di bawah pimpinan Abhijeet Dipke yang bersama cepat meraih jutaan pengikut.
Popularitas gerakan di ruang digital menciptakan pihak pemerintah bergerak cepat menjalankan pemblokiran akun X resmi mereka. Kendati demikian, antusiasme masyarakat sekitar tak surut dan justru beralih membesarkan basis pendukung mereka di platform Instagram hingga melampaui jutaan pengikut.
“Di India, apabila Anda kaya, sistem menari di ujung jari Anda. Jika Anda miskin, tidak akan ada orang di sana demi Anda. Kami frustrasi lantaran pihak pemerintah berhenti mendengarkan,” kata Dipke.
Puncak kemarahan publik meledak setelah lembar soal ujian masuk perguruan tinggi kedokteran bocor dan beredar luas di aplikasi pesan instan. Dampak kebocoran tersebut merugikan makin dari dua juta calon kalangan akademisi dan memicu gelombang kekecewaan berat hingga kasus bunuh diri di kalangan peserta.
Kondisi ketimpangan ini kian diperparah oleh fenomena tingginya angka pengangguran terdidik yang melilit hampir separuh lulusan perguruan tinggi di India. Skema bantuan tunai pihak pemerintah dinilai tidak mampu menjawab persoalan mendasar dari minimnya ketersediaan lapangan kerja formal.
Para demonstran menuntut ganti rugi untuk keluarga pihak korban terdampak serta perbaikan sistem seleksi agar berjalan adil untuk seluruh lapisan masyarakat sekitar. Di sisi lain, jajaran aparatur negara kementerian terkait mengawali membuka ruang dialog meski aparatur negara utama yang dituntut masih belum merespons tuntutan pengunduran diri.
“Ini merupakan orang-orang yang ingin menciptakan negara ini hampa,” ujar Pimpinan BJP Nitin Nabhi merespons pergerakan massa.
Pertumbuhan ekonomi India yang melaju pesat nyatanya masih belum mampu menyerap jutaan lulusan sarjana baru setiap tahunnya. Tingginya persaingan memburu posisi akademis dan pekerjaan pihak pemerintah menjadikan satu sesi ujian nasional sebagai penentu tunggal masa depan finansial seseorang.
Ketimpangan sosial dan maraknya praktik kecurangan dalam sistem pendidikan nasional akhirnya mendorong pemuda dari berbagai latar belakang turun ke jalan. Penanganan represif aparat di pusat kota New Delhi mempertegas eskalasi konflik antara aspirasi generasi muda dan otoritas negara.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

